MAHAKAMA — Generasi Z (Gen Z) sering kali menjadi sasaran kritik pedas di lingkungan profesional.
Label seperti ‘mental tempe’, manja, hingga dianggap kurang beretika kerap disematkan kepada mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 ini. Namun, benarkah demikian? Atau justru mereka sedang memimpin revolusi kesehatan mental di tempat kerja?
Menurut Deloitte Global 2024 Gen Z and Millennial Survey, sebanyak 46% Gen Z mengaku merasa cemas dan stres hampir sepanjang waktu kerja mereka.
Bagi generasi digital native ini, kesehatan mental bukan lagi sekadar bonus, melainkan fondasi utama dalam menentukan kualitas hidup dan loyalitas mereka terhadap sebuah perusahaan.
Fleksibilitas adalah Kunci

Fenomena ini memicu pergeseran besar di kota-kota besar, tempat nadi ekonomi digital berdetak paling kencang. Jika generasi sebelumnya memandang work life balance sebagai pembagian kaku “8 jam kerja, 8 jam istirahat, dan 8 jam tidur”, Gen Z punya rumus yang berbeda.
Kini, work life balance dimaknai sebagai fleksibilitas. Ini bukan soal berapa jam seseorang duduk di kantor, melainkan kemampuan menyelesaikan tanggung jawab tanpa harus mengorbankan kesehatan fisik dan kewarasan mental.
Bagi Gen Z, keseimbangan tercapai ketika masalah di kantor tidak mereka bawa pulang ke rumah, dan masalah pribadi tidak menghambat kinerja profesional. Intinya, mereka menginginkan sistem: tahu kapan harus tancap gas mengejar tenggat waktu, dan tahu kapan harus menarik rem untuk memulihkan energi.
Budaya kerja lembur tanpa henti atau hustle culture kini mulai ditinggalkan. Sebagai gantinya, muncul tren yang lebih mengedepankan batasan diri, seperti Quiet Quitting.
Istilah Quiet Quitting digunakan untuk menggambarkan sikap seseorang yang tetap bekerja tetapi hanya melakukan tugas-tugas dasar yang diperlukan tanpa berusaha lebih keras atau mengambil inisiatif tambahan.
Mereka tidak benar-benar berhenti dari pekerjaan mereka, tetapi secara mental dan emosional mereka telah “berhenti” berusaha untuk mencapai lebih dari yang diharapkan.
Selain itu, Gen Z memiliki pendekatan hidup yang berbeda dari generasi sebelumnya, salah satunya melalui fenomena “Soft Life”. Fenomena ini menekankan kenyamanan, ketenangan, dan menikmati hidup tanpa terburu-buru.
Gaya hidup ini berbeda dari budaya kerja yang telah mendominasi selama bertahun-tahun. Gen Z lebih suka menjaga keseimbangan hidup dan kesehatan mental daripada berkonsentrasi pada ambisi tinggi dan kerja keras tanpa henti.
Di Indonesia, hal ini terlihat dari menjamurnya budaya Work From Cafe (WFC), di mana kedai kopi bertransformasi menjadi “kantor satelit” yang menawarkan suasana lebih dinamis dibanding kantor konvensional.
Tips Mewujudkan Work Life Balance Anti-Gagal

Agar fleksibilitas tidak berujung pada penurunan produktivitas, berikut adalah strategi jitu yang bisa diterapkan oleh para pekerja muda:
- Tegas pada Batasan Digital: Teknologi memudahkan akses, namun bukan berarti Anda harus menatap layar 24 jam. Matikan notifikasi kerja setelah jam kantor untuk memberi otak waktu beristirahat.
- Susun Skala Prioritas: Hindari multitasking yang memicu burnout. Fokus pada tugas yang paling mendesak agar sisa waktu bisa dinikmati dengan tenang.
- Manfaatkan Waktu Cuti: Jangan ragu mengambil cuti. Anggaplah ini sebagai investasi jangka panjang agar produktivitas tetap terjaga, bukan pelarian dari tanggung jawab.
- Hobi Tanpa Layar: Setelah seharian menatap laptop, istirahatkan mata dan pikiran dengan aktivitas fisik seperti olahraga atau jalan santai di taman untuk menurunkan kadar kortisol atau hormon pemicu stres.
Pergeseran paradigma Work Life Balance yang dibawa Gen Z bukanlah alasan untuk bermalas-malasan. Sebaliknya, ini adalah respons adaptif terhadap dunia yang bergerak makin cepat.
Banyak studi menunjukkan bahwa pekerja yang bahagia dan seimbang secara mental justru memiliki produktivitas yang jauh lebih tinggi dalam jangka panjang. Sudah saatnya dunia kerja berhenti menghakimi dan mulai menghargai keseimbangan. (*)
Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin