By admin
14.05.26

Mencekam di MV Hondius: Hantavirus Tewaskan Dua Penumpang, Pasien Berasal dari 7 Negara

MAHAKAMA – Hembusan angin laut yang semula terasa menyegarkan kini berubah menjadi suasana mencekam bagi ratusan pelancong internasional. Kebahagiaan di atas dek kapal pesiar tiba-tiba sirna saat ancaman virus mematikan mulai menyebar di tengah samudera.

Kasus wabah Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius belakangan ini menjadi perhatian serius dunia internasional. Kapal ekspedisi tersebut mengalami penyebaran virus saat berlayar sehingga banyak penumpang harus menjalani karantina ketat.

Hantavirus merupakan kelompok virus dari hewan pengerat yang menyerang sistem pernapasan serta ginjal manusia. Penularan umumnya terjadi saat manusia menghirup partikel udara yang terkontaminasi kotoran atau air liur tikus terinfeksi.

Data Sebaran Kasus Positif Hantavirus di Kapal MV Hondius

Laporan dari Riset Goodstat menunjukkan terdapat sepuluh penumpang yang terkonfirmasi positif terinfeksi Hantavirus hingga Mei 2026. Para pasien berasal dari tujuh negara berbeda yang sedang menikmati perjalanan wisata lintas kawasan Atlantik.

Belanda dan Inggris masing-masing mencatat dua kasus positif dari total temuan di atas kapal tersebut. Namun demikian, satu pasien asal Belanda dilaporkan meninggal dunia sementara warga Inggris masih menjalani perawatan intensif.

Kasus lainnya menyerang penumpang asal Jerman, Swiss, Prancis, Amerika Serikat, dan juga warga negara Spanyol. Pasien asal Jerman dinyatakan meninggal dunia akibat komplikasi berat pada sistem pernapasan selama masa pelayaran.

Sementara itu, pasien dari negara lainnya masih berada dalam penanganan medis yang sangat ketat. Otoritas kesehatan mencatat total dua korban jiwa dan delapan penumpang lainnya masih berjuang untuk pulih.

Jejak Hantavirus di Indonesia dan Langkah Pencegahan

Hantavirus sebenarnya bukan merupakan jenis virus baru bagi masyarakat di wilayah Indonesia. Peneliti sudah menemukan keberadaan virus ini di tanah air sejak awal tahun 1990-an pada populasi tikus.

Kasus infeksi di Indonesia umumnya berkaitan erat dengan lingkungan yang memiliki populasi tikus sangat tinggi. Contohnya adalah kawasan padat penduduk, gudang penyimpanan barang, hingga area pelabuhan yang kurang terjaga kebersihannya.

Oleh karena itu, masyarakat harus selalu menjaga kebersihan lingkungan rumah guna menghindari kontak dengan hewan pengerat. Menutup akses masuk tikus serta menyimpan makanan dengan rapat menjadi langkah pencegahan yang paling utama.

Di samping itu, penggunaan alat pelindung saat bekerja di area berisiko juga sangat penting bagi keselamatan. Segera periksakan diri ke dokter jika mengalami gejala demam tinggi atau nyeri otot setelah beraktivitas.

Wabah di MV Hondius mengingatkan kita bahwa ancaman kesehatan global bisa muncul dari lingkungan terkecil sekalipun. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan adalah tameng terbaik untuk menghadapi berbagai ancaman penyakit yang ada. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending