By admin
13.05.26

LPG Impor Tembus 80 Persen: Pemerintah Siapkan Gas CNG sebagai Solusi Mandiri Energi

LPG Impor Tembus 80 Persen: Pemerintah Siapkan Gas CNG sebagai Solusi Mandiri Energi

MAHAKAMA – API kompor yang membiru kini membawa harapan baru bagi kemandirian energi di dapur-dapur masyarakat seluruh pelosok negeri. Kesibukan di ladang gas domestik memberikan sinyal kuat bahwa Indonesia siap melepaskan ketergantungan dari pasokan energi luar negeri.

Pemerintah mulai mengkaji penggunaan compressed natural gas atau CNG sebagai energi alternatif pengganti LPG 3 kilogram. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa Indonesia perlu memperkuat energi berbasis domestik. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor gas cair yang selama ini sangat tinggi.

Ketergantungan impor gas cair Indonesia memang menjadi tantangan besar bagi ketahanan energi nasional. Pemerintah melirik gas CNG karena ketersediaan sumber gas bumi di dalam negeri relatif sangat melimpah. Oleh karena itu, peralihan ini dapat menjadi solusi jitu di tengah ketidakpastian geopolitik global saat ini.

Memahami Perbedaan Gas CNG dan LPG

CNG merupakan gas alam yang mengalami proses kompresi hingga bertekanan tinggi agar volumenya menjadi lebih kecil. Sebagian besar kandungan gas ini terdiri dari metana yang berasal langsung dari sumber gas bumi domestik. Berbeda dengan itu, LPG merupakan campuran gas propana dan butana yang disimpan dalam bentuk cair.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun pada 2026. Namun demikian, produksi domestik hanya mampu menyuplai sekitar 1,6 hingga 1,7 juta ton saja per tahun. Artinya, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 80 persen dari total kebutuhan gas nasional setiap tahunnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan energi rumah tangga masih sangat bergantung pada pasokan dari luar negeri. Ketika harga energi dunia naik, beban subsidi dan impor energi Indonesia juga pasti akan ikut membengkak. Hal inilah yang mendorong pemerintah untuk segera mempertimbangkan gas CNG sebagai solusi jangka panjang.

Sektor Pengguna dan Tantangan Infrastruktur Gas

Penggunaan gas CNG sebenarnya tidak terbatas hanya pada kendaraan umum atau bus kota saja. Sektor perhotelan dan restoran juga mulai memanfaatkan energi ini karena memiliki suplai yang jauh lebih stabil. Selain itu, industri kecil seperti usaha laundry dapat menggunakan CNG untuk menekan biaya operasional harian mereka.

CNG memiliki keunggulan karena menghasilkan emisi karbon yang jauh lebih rendah daripada bahan bakar fosil lainnya. Namun demikian, pemanfaatan gas ini masih membutuhkan pembangunan jaringan distribusi dan fasilitas penyimpanan yang sangat luas. Di samping itu, biaya investasi awal untuk infrastruktur gas ini memang tergolong cukup besar.

Wacana penggunaan gas CNG mencerminkan upaya serius pemerintah dalam memperkuat kedaulatan energi nasional secara mandiri. Meskipun begitu, implementasi secara luas masih menghadapi tantangan besar terkait kesiapan teknologi di tingkat rumah tangga. Oleh karena itu, pengembangan sektor ini memerlukan dukungan kebijakan yang matang agar transisi energi berjalan lancar. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending