MAHAKAMA – Asap rokok mengepul tebal, membaur bersama aroma pekat seduhan kopi hitam dan gurihnya mi instan yang baru diangkat dari panci. Di salah satu sudut kedai kopi yang penuh sesak di Jalan Siraj Salman, Kota Samarinda, ratusan pasang mata terpaku lurus tanpa berkedip ke arah layar proyektor besar.
Ketika bola bersarang di pojok gawang lawan, keheningan malam seketika pecah oleh sorak-sorai histeris, gebrak meja, dan pelukan spontan antar-penonton yang bahkan mungkin tidak saling kenal sebelumnya. Atmosfer riuh ini menjadi pemandangan kontras yang memikat; ribuan kilometer dari stadion megah bernilai miliaran dolar tempat turnamen itu digelar, riak ekonomi kecil justru berputar kencang di tingkat akar rumput, menghidupkan malam di sudut Kota Samarinda.
Geliat ini menjadi berkah tersendiri bagi para pelaku usaha mikro, salah satunya Fathur, pemilik kedai kopi yang jeli menangkap peluang emas ini. Berbekal sebuah proyektor sederhana dan pengaturan layar di area terbuka kedainya, ia menyulap tempat nongkrong biasa menjadi arena “Nonton Bareng” (Nobar) yang selalu dinanti. Fasilitas ini terbukti menjadi magnet kuat yang melipatgandakan omzet hariannya secara drastis, terutama saat pertandingan memasuki babak penentuan atau saat negara-negara favorit berlaga di jam tayang utama.
Jika pada hari biasa kedainya hanya menghasilkan pendapatan yang biasa-biasa saja, momentum Piala Dunia mengubah segalanya menjadi ladang perputaran uang yang menggiurkan. Fathur membeberkan bahwa pada malam-malam laga besar, omzet kedainya melonjak tajam hingga menyentuh angka 5 juta rupiah per malam.
“Piala Dunia ini jadi berkah musiman. Kalau sudah masuk babak krusial, kopi, mi instan, dan es teh itu berubah jadi amunisi begadang yang wajib ada di setiap meja. Penonton bisa pesan berkali-kali supaya kuat melek sampai menjelang subuh,” ujar Fathur sembari tersenyum lebar melayani pesanan pelanggannya yang tak henti mengalir.
Daya tarik Nobar di kedai kopi nyatanya tidak hanya memikat para penggila bola fanatik, tetapi juga menjadi pilihan alternatif ruang sosial yang ramah bagi masyarakat umum. Kehadiran layar lebar dan atmosfer yang hidup mengundang banyak orang untuk sengaja keluar rumah mencari tempat berkumpul yang seru.
Hal ini terlihat dari ramainya penonton yang datang berbondong-bondong, membawa serta teman terdekat hingga pasangan mereka. Salah satu pengunjung malam itu, Haykal, mengaku sengaja berburu kedai kopi yang menggelar Nobar demi bisa menikmati malam yang panjang bersama pasangannya tanpa kehilangan momen menyaksikan pertandingan tim kesayangannya.
“Saya sengaja mengajak pasangan ke sini buat sekalian hangout. Seru banget kalau nobar begini, atmosfernya beda jauh dengan nonton sendirian di kamar. Kita bisa ikut teriak, tegang bareng, sekalian jajan santai,” kata Haykal di tengah keriuhan penonton yang bersorak mendukung tim andalannya.
Fenomena menjamurnya tempat Nobar ini menyimpan analisis menarik tentang mengapa ekonomi akar rumput selalu hidup dan bergeliat setiap kali turnamen sepak bola akbar digelar. Piala Dunia adalah sebuah momen kelangkaan yang hanya terjadi empat tahun sekali, sehingga secara psikologis menciptakan urgensi yang tinggi bagi masyarakat untuk ikut “merayakannya” agar tidak ketinggalan sejarah.
Di Indonesia sendiri, kebiasaan merayakan sesuatu hampir selalu melibatkan dua aktivitas sosial yang tak terpisahkan: berkumpul bersama dan jajan. Dalam konteks ini, sepak bola terbukti menjadi stimulus ekonomi yang paling demokratis karena efek dominonya yang luar biasa. Tanpa perlu melalui birokrasi yang rumit, rantai modal yang besar, atau regulasi yang kaku, efek ekonomi dari tendangan bola di stadion utama langsung menyentuh strata sosial paling bawah secara instan. Pedagang kopi, penjual mi instan, hingga penyedia jasa parkir dadakan semuanya kecipratan untung dari kegembiraan massal ini.
Piala Dunia mungkin akan berakhir dalam waktu satu bulan, dan trofi emas yang megah itu pada akhirnya akan dibawa pulang oleh satu negara yang keluar sebagai pemenang di lapangan hijau. Namun, bagi para pedagang kecil di sepanjang Jalan Siraj Salman dan sudut-sudut kota lainnya, kemenangan sejati telah mereka raih lebih awal.
Kemenangan mereka adalah ketika dapur rumah tangga bisa terus mengepul, roda usaha terus berputar, dan tabungan mereka bertambah tebal berkat kegembiraan yang dibawa oleh bola sepak yang bergulir. Esensi sejati dari sepak bola pada akhirnya bukan cuma tentang siapa yang mencetak gol ke gawang lawan, melainkan tentang bagaimana permainan ini mampu menghidupkan dan menyambung napas manusia-manusia di sekitarnya. (*)