Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp17.794 per dolar AS pada perdagangan Kamis (19/6) sore. Mata uang Garuda tersebut mengalami penurunan sebesar 32 poin atau 0,18 persen dibandingkan dengan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan rupiah ini sejalan dengan kondisi mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga terpuruk di zona merah terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia memimpin pelemahan dengan koreksi sebesar 1,04 persen, disusul oleh won Korea Selatan yang turun 1,01 persen. Selanjutnya, peso Filipina melemah 0,32 persen, serta yuan China dan dolar Hong Kong yang kompak turun tipis sebesar 0,02 persen.
Meskipun demikian, beberapa mata uang Asia terpantau mampu bergerak menguat terhadap dolar AS, seperti dolar Singapura dan yen Jepang yang masing-masing naik tipis 0,02 persen. Sementara itu, pergerakan di kelompok mata uang negara maju menunjukkan hasil yang bervariasi. Euro Eropa menguat 0,07 persen dan dolar Australia naik 0,24 persen. Di sisi lain, poundsterling Inggris melemah 0,01 persen, dolar Kanada turun 0,04 persen, dan franc Swiss terdepresiasi sebesar 0,07 persen.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa penguatan indeks dolar AS masih menjadi faktor utama yang memberikan tekanan bagi pergerakan rupiah. Sentimen positif tersebut didorong oleh optimisme pasar terkait potensi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan ini diperkirakan dapat meredakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah sekaligus membuka kembali jalur ekspor energi melalui Selat Hormuz.
Selain faktor tersebut, pasar juga tengah merespons sikap Federal Reserve yang memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50-3,75 persen, sembari tetap memberikan sinyal bahwa peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini masih terbuka.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai para pelaku pasar cenderung bersikap wait and see menunggu keputusan MSCI mengenai status Indonesia di kelompok emerging market serta kejelasan terkait pencabutan pembekuan penambahan konstituen saham baru Indonesia. Di saat yang bersamaan, langkah Bank Indonesia yang menaikkan BI Rate sebesar 0,25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen turut menjadi perhatian besar bagi para investor.
“Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah, serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5 persen hingga 1 persen yang ditetapkan Pemerintah,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulisnya.
Untuk pergerakan selanjutnya, Ibrahim memproyeksikan bahwa nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.790 hingga Rp17.840 per dolar AS pada perdagangan Jumat (20/6). (*)
Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin