MAHAKAMA — Perjalanan perdana seringkali diharapkan menjadi pengalaman yang menyenangkan, namun tidak bagi Nindi (nama samaran).
Niat hati ingin menikmati perjalanan dari Balikpapan menuju Samarinda dengan menggunakan bus untuk pertama kalinya, Nindi justru harus mengalami peristiwa traumatis yang membekas dalam ingatannya.
Seorang pria paruh baya diduga melakukan pelecehan seksual terhadapnya saat ia tengah berada di dalam bus tersebut.
Kejadian bermula saat bus tengah melaju menuju Samarinda. Nindi yang merasa lelah memutuskan untuk beristirahat sejenak. Namun, tidurnya terusik ketika ia merasakan rasa sakit yang tidak wajar di bagian tubuhnya.
Saat kesadarannya pulih, ia tersentak menyadari bahwa lengan dan area dadanya sedang diremas oleh seseorang.
Dalam kondisi panik, Nindi mencoba meraih ponsel di dalam tasnya untuk mencari bantuan atau mendokumentasikan kejadian tersebut. Namun, terduga pelaku yang menyadari dan langsung menarik tangannya.
Tak ingin gegabah, Nindi mencoba mengatur strategi untuk memastikan siapa sosok di balik tindakan kurang ajar tersebut. Ia berpura-pura kembali tertidur untuk memancing pelaku beraksi kembali.
Begitu kecurigaannya terbukti bahwa pria yang duduk tepat di belakangnya adalah pelakunya, Nindi langsung menoleh dan berusaha merekam wajah pria tersebut. Namun, pria paruh baya itu dengan cepat beraksi seolah-olah ia sedang tertidur pulas demi menutupi perbuatannya.
Pelaku kemudian bersikukuh tidak mengakui tindakan tak senonoh yang ia lakukan. Menghindari konfrontasi, pelaku memilih turun dari bus saat bus sedang mengantri pembayaran e-toll.
Mirisnya, pelaku bisa melenggang pergi dengan santai dan menumpangi sebuah mobil Kijang berwarna abu-abu tanpa ada satu pun orang di bus yang mencoba menahannya.
Setelah bus melewati gerbang tol, Nindi melihat keberadaan polisi yang sedang berjaga. Ia pun segera meminta kru bus untuk berhenti agar ia bisa melaporkan kejadian yang baru saja dialaminya.
Sayangnya, permintaan tolong Nindi seolah dianggap angin lalu. Tak ada satu pun orang yang menggubrisnya.
Kekecewaan Nindi makin memuncak ketika mendengar respons dari kernet bus. Bukannya memberikan perlindungan, sang kernet justru melontarkan kalimat yang menyakitkan.
“Harusnya jangan dilepas tadi orangnya, kita tahan aja,” ujar kernet tersebut.
Mirisnya, ucapan itu justru disambut gelak tawa oleh beberapa penumpang lain, seolah pelecehan yang dialami Nindi adalah sebuah banyolan belaka.
Kini, Nindi tidak tinggal diam. Dengan didampingi oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH), ia memproses laporan resminya ke Polresta Samarinda.
Luka psikis dialami Nindi, mengingat ini adalah pengalaman pertamanya naik bus dan ia langsung dihadapkan pada kenyataan pahit.
Nindi mengungkapkan bahwa dirinya sangat membutuhkan pendampingan psikologis untuk menyembuhkan trauma mendalam ini.
“Bener-bener terguncang mental saya kak,” ungkap Nindi kepada Mahakama.
Peristiwa yang dialami Nindi menjadi pengingat keras bagi kita semua bahwa ruang aman bagi perempuan di transportasi publik masih sangat minim.
Sikap abai dan justru menjadikannya bahan candaan menunjukkan bahwa empati terhadap korban pelecehan seksual masih menjadi pekerjaan rumah yang besar di masyarakat kita. (*)
Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin