MAHAKAMA — Narasi bahwa orang dengan berat badan berlebih atau obesitas itu malas berolahraga telah lama mengakar. Namun, kenyataannya jauh lebih kompleks.
Banyak dari mereka, yang sebetulnya termotivasi untuk hidup sehat, justru mengurungkan niat karena dihantui oleh ketakutan akan dihakimi, ditatap, atau diolok-olok (body shaming), terutama di pusat kebugaran atau area terbuka.
Stigma sosial ini menjadi tantangan psikologis selain kendala fisik saat berolahraga.
Niat Sehat Terhalang Tatapan Menghakimi
Mahakama berbincang dengan Maya (30), seorang karyawan di Samarinda yang memiliki berat badan di atas rata-rata. Maya mengakui bahwa ia selalu ingin memulai rutinitas olahraga, tetapi sering merasa cemas.
“Setiap kali aku coba lari atau jalan santai, aku merasa semua mata menatap. Bukan tatapan ramah, tapi tatapan menilai seperti ‘Buat apa kamu olahraga? Enggak bakal ada bedanya’ Itu bikin mental langsung down,” ujar Maya.
Selain masalah psikologis, Sinta (21) seorang mahasiswi di Samarinda, juga berbagi tantangan lainnya seperti kesulitan mencari ukuran pakaian.
“Cari size baju olahraga itu perjuangan. Ukuran yang pas untuk tubuh besar seringkali enggak tersedia. Kalaupun ada, modelnya terbatas, kadang malah terasa seperti karung, enggak nyaman untuk bergerak,” kata Sinta.
Sinta mengungkapkan motivasinya untuk memulai rutinitas olahraga agar tubuhnya lebih sehat dan berat badannya bisa berkurang, namun kendala lainnya juga ia alami.
“Aku ngerasa cepat cape, nyeri sendi, dan ngerasa enggak nyaman dengan fasilitas olahraga yang kadang terasa enggak dirancang untuk tubuh besar,” ungkapnya.
Kebutuhan Pendekatan yang Lebih Humanis
Mahakama bertemu Rizky Aji (35), seorang Personal Trainer berpengalaman di sebuah pusat kebugaran (gym) di Samarinda, yang pernah melatih klien dengan berbagai tipe tubuh, termasuk klien obesitas. Rizky membenarkan bahwa hambatan utama bukanlah fisik.
“Kendala seperti nyeri sendi atau keterbatasan gerak itu standar. Yang paling susah adalah membangun kepercayaan diri mereka. Banyak yang datang sudah dengan mindset kalah. Mereka merasa tidak pantas, takut gagal, dan khawatir dengan pandangan orang lain,” jelas Rizky.
Dalam melatih klien obesitas, Rizky menekankan pendekatan yang bertahap dan suportif.
“Aku enggak langsung menyuruh lari atau melompat. Fokusnya pada olahraga low impact seperti berenang, sepeda statis, atau latihan kekuatan ringan untuk menguatkan otot inti dan persendian. Aku juga sangat berhati-hati dalam hal nutrisi. Yang terpenting adalah konsisten,” tuturnya.
Rizky Aji berpesan agar masyarakat tidak mencemooh orang yang obesitas serta menciptakan lingkungan yang inklusif agar semua orang merasa nyaman dan aman berolahraga.
“Tolong hentikan body shaming. Orang gemuk yang berolahraga itu sedang berjuang, dan mereka butuh dukungan. Kalau seseorang merasa aman, motivasi mereka akan tumbuh jauh lebih cepat,” ucapnya.
Fenomena body shaming terhadap orang obesitas saat berolahraga menegaskan bahwa masalah utama yang dihadapi mereka dalam berolahraga bukanlah kemalasan, melainkan lingkungan sosial yang tidak suportif dan menghakimi.
Sudah saatnya masyarakat dan pengelola fasilitas olahraga menciptakan ruang yang aman dan nyaman, sehingga fokus mereka bisa beralih dari ketakutan diolok-olok menjadi fokus pada kesehatan. (*)
Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin