MAHAKAMA – Ketegangan di laut kembali meningkat. Situasi ini membuat dunia menahan napas karena berpotensi mengganggu stabilitas global.
Amerika Serikat resmi memblokade pelabuhan utama Iran pada Senin (13/04). Komando Pusat AS (CENTCOM) menjalankan operasi ini atas perintah Presiden Donald Trump.
Blokade ini bertujuan menghentikan semua kapal yang masuk dan keluar dari Teluk Persia dan Laut Oman. Langkah ini diambil setelah perundingan damai di Pakistan gagal mencapai kesepakatan.
Dalam praktiknya, blokade merupakan strategi militer untuk melemahkan ekonomi dan logistik lawan.
Untuk memastikan operasi berjalan ketat, militer AS menempatkan kapal induk USS Abraham Lincoln di timur Teluk Oman. Dua kapal perusak dengan rudal juga disiagakan untuk mengawasi pergerakan kapal.
Namun, AS tetap memberi pengecualian bagi kapal yang membawa makanan dan obat-obatan. Semua kapal bantuan wajib melalui pemeriksaan militer sebelum melintas.
Donald Trump bahkan memperingatkan akan menghancurkan pihak yang membayar pungutan ilegal kepada otoritas Iran di laut.
Respons Iran dan Ancaman Kenaikan Harga Energi
Iran langsung merespons langkah ini. Dilansir BBC Indonesia (13/4/2026) Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menilai AS bersikap egois, padahal kesepakatan damai hampir tercapai.
Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut blokade ini bisa membuat harga bensin melonjak. Ia juga mengingatkan dunia agar bersiap menghadapi krisis energi.
Angkatan laut Iran menyatakan siap menghadapi kapal militer asing yang mendekati wilayah strategis mereka.
Risiko Hukum dan Retaknya Dukungan Internasional
Di sisi lain, langkah AS memicu perdebatan hukum internasional. Sejumlah pakar menilai blokade ini berpotensi melanggar aturan maritim global.
Selain itu, Presiden Trump mengklaim NATO akan membantu operasi di Selat Hormuz. Namun, Inggris menolak terlibat langsung dalam blokade tersebut.
Perdana Menteri Keir Starmer memilih fokus menjaga kebebasan navigasi tanpa ikut menyerang wilayah Iran.
Perbedaan sikap ini menunjukkan adanya retakan dalam dukungan internasional terhadap kebijakan AS.
Dampak ke Ekonomi dan Pasar Global
Meski demikian, dampak langsung terhadap pelayaran dinilai masih terbatas. Banyak perusahaan pelayaran memilih menunggu hasil negosiasi damai daripada mengambil risiko.
Namun, efek psikologisnya cukup besar. Ketegangan ini mengguncang pasar energi dan meningkatkan kekhawatiran global.
Di dalam negeri AS, kebijakan ini juga menuai kritik. Hasil jajak pendapat menunjukkan banyak pihak menilai langkah ini merugikan kepentingan nasional.
Meski begitu, Trump tetap yakin ekonomi AS mampu bertahan di tengah tekanan.
Ketegangan ini menjadi pengingat bahwa stabilitas energi sangat bergantung pada situasi geopolitik. Tanpa pengelolaan yang bijak, dampaknya bisa meluas hingga ke kehidupan sehari-hari masyarakat dunia. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin