By admin
16.04.26

Emas Hitam Meredup: 915 Pekerja Tambang Kaltim Kena PHK, Kini Terpaksa Alih Profesi ke Sektor Jasa

Pembatasan produksi batu bara picu PHK massal di Kaltim. Pemerintah genjot pelatihan reskilling untuk selamatkan pekerja./Ilustrasi

MAHAKAMA Di tanah yang dulu menjanjikan emas hitam, mesin-mesin tambang kini perlahan berhenti. Harapan yang pernah menyala mulai meredup, menyisakan ketidakpastian bagi para pekerja.

Ribuan tangan yang dulu menggali kemakmuran kini dipaksa mencari arah baru. Perubahan ini datang cepat, tanpa banyak ruang untuk bersiap.

Pembatasan produksi batu bara secara nasional mulai memukul pasar tenaga kerja di Kalimantan Timur. Hingga Maret 2026, sebanyak 915 pekerja kehilangan pekerjaan akibat PHK massal.

Angka ini menempatkan Kalimantan Timur di peringkat ketiga nasional untuk sektor pertambangan. Penurunan terjadi akibat pembatasan RKAB di sejumlah perusahaan besar.

Dampaknya terasa paling kuat di wilayah seperti Kutai Timur. Kebutuhan tenaga kerja menyusut tajam, memaksa banyak keluarga mencari penghasilan di luar sektor tambang.

Ketergantungan ekonomi pada tambang kini menunjukkan risikonya. Aktivitas ekonomi di sekitar wilayah tambang ikut melambat, termasuk usaha kecil masyarakat.

Pemerintah daerah pun berpacu menahan lonjakan pengangguran. Stabilitas sosial menjadi taruhan jika situasi ini terus berlanjut.

Strategi Reskilling dan Pergeseran Keterampilan

Menjawab kondisi ini, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mulai mengubah strategi ketenagakerjaan. Fokus diarahkan pada program alih keterampilan atau reskilling.

Melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, pelatihan difokuskan ke sektor jasa dan industri kecil. Program ini dijalankan di Balai Latihan Kerja di Balikpapan dan Bontang.

Peserta dilatih dalam berbagai kejuruan, mulai dari pengelasan, servis AC, hingga barista. Pilihan ini disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja saat ini.

Kejuruan pengelasan menjadi yang paling diminati. Serapan kerjanya tinggi, bahkan sebagian peserta sudah mendapat tawaran kerja sebelum pelatihan selesai.

Selain keterampilan teknis, peserta juga dibekali kewirausahaan. Tujuannya agar mereka mampu membuka usaha sendiri.

Dalam setahun terakhir, lebih dari 2 ribu orang mengikuti program ini. Sekitar 80 persen di antaranya berhasil terserap ke dunia kerja.

BLK juga menggandeng TNI untuk membentuk disiplin dan mental kerja peserta. Pendekatan ini dinilai penting dalam menghadapi persaingan kerja yang semakin ketat.

Tantangan Transisi Energi dan Masa Depan Pekerja

Alih profesi menjadi langkah paling realistis di tengah menurunnya industri batu bara. Namun, transisi ini tidak berjalan mudah.

Sektor energi terbarukan memang mulai dilirik, tetapi belum mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Pembangunan infrastruktur juga masih membutuhkan waktu.

Pengalaman negara lain menunjukkan transisi ini butuh dukungan besar. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci agar pekerja tidak tertinggal.

Masyarakat berharap akses kerja terus diperluas. Perizinan usaha juga perlu dipermudah agar peluang baru bisa tumbuh lebih cepat.

Keberhasilan transisi bergantung pada keberlanjutan pelatihan dan ketersediaan lapangan kerja. Namun, daya juang para pekerja tetap menjadi modal utama.

Negara dituntut hadir memberi perlindungan dan solusi. Dari tanah tambang yang meredup, harapan baru harus tetap dinyalakan demi masa depan Kalimantan Timur. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending