By admin
09.04.26

Krisis Energi Global: Indonesia Tahan Harga BBM Paling Rendah di Seluruh Kawasan ASEAN

Harga BBM di ASEAN melonjak drastis akibat konflik global namun Indonesia mencatat kenaikan paling rendah. Simak datanya di sini./Ilustrasi

MAHAKAMA – Harga BBM di ASEAN naik tajam akibat konflik Timur Tengah. Gangguan terjadi di Selat Hormuz. Pasokan minyak ke Asia terbatas. Harga Brent melonjak hingga 60 persen.

Kondisi tersebut langsung menekan kawasan Asia Tenggara yang bergantung pada pasokan energi dari kawasan tersebut. Struktur kilang yang didesain untuk minyak Asia Tengah membuat negara ASEAN sangat rentan, sehingga gejolak global cepat merambat ke harga BBM domestik. 

Perbandingan Lonjakan Harga Bensin dan Solar di Negara Tetangga

Dampak ini terlihat pada lonjakan harga bensin di berbagai negara. Data Global Petrol Price menunjukan  Myanmar mencatat kenaikan tertinggi hingga 100 persen.

Di tengah tekanan tersebut, Indonesia mencatat kenaikan paling rendah yakni 2,8 persen, menunjukkan adanya perbedaan respons kebijakan di tiap negara.

Pola serupa terjadi pada bahan bakar solar yang mengalami kenaikan lebih tajam. Myanmar kembali memimpin dengan lonjakan 119,9 persen. 

Sementara itu, Indonesia kembali mencatat kenaikan terendah sebesar 7,5 persen, memperkuat indikasi stabilitas relatif di tengah tekanan global.

Pertahanan Harga BBM Pertamina dan Strategi Penghematan Pemerintah

Hingga Senin (6/4/2026), harga BBM Pertamina di Jakarta masih stabil. Pertalite bertahan di Rp10.000 per liter dan Bio Solar Rp6.800 per liter.

Mengutip GoodStat (8/4/2026), Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan penahanan harga dilakukan untuk menjaga daya beli dan stabilitas ekonomi, meski harga minyak dunia telah melampaui asumsi APBN 2026 sebesar USD 70 per barel.

Namun, pengamat seperti Piter Abdullah dari Prasasti Center menilai kebijakan ini berat bagi fiskal, terutama saat harga minyak mencapai USD 109 per barel. Karena itu, pemerintah menerapkan penghematan BBM sejak 1 April 2026, termasuk WFH bagi ASN dan pemangkasan perjalanan dinas hingga 50 persen.

Pemerintah memperkirakan langkah ini dapat menghemat APBN hingga Rp6,2 triliun serta menekan belanja energi nasional. Kebijakan tersebut menjadi respons untuk menjaga stabilitas tanpa membebani masyarakat, dengan tetap menekankan pentingnya transparansi subsidi agar tepat sasaran. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending