By admin
03.11.25

Ini Beda Kos Las Vegas dan Kos Bebas di Samarinda: Ada yang Boleh Bawa “Sepupu”

Ilustrasi
Ilustrasi Kos Las Vegas

MAHAKAMA – Fenomena kos Las Vegas di Samarinda bukan hal baru, tapi selalu menarik untuk dibahas. Mungkin karena Samarinda berstatus ibu kota provinsi dan memiliki banyak perguruan tinggi ya. Walhasil, setiap tahun perantau datang ke Samarinda untuk sekolah, kuliah, hingga bekerja. Setiap pencarian kos baru, selalu saja kos Las Vegas jadi pembahasan.

Pada Oktober 2025, ada razia gabungan Satpol PP Samarinda menyasar penginapan dan kos. Petugas menemukan 15 pasangan bukan suami istri yang diamankan. Namun, kita tidak membahas di mana saja kos dan penginapan yang digeruduk. Ada beberapa hal menarik tentang kos Las Vegas di Samarinda yang perlu diketahui.

Bagi perantau di Samarinda, informasi terkait jenis kos mungkin akan bermanfaat. Tidak hanya kos putra dan kos putri, ada beberapa jenis kos di Samarinda seperti kos eksekutif, kos bebas, hingga kos Las Vegas.

Di antara kos-kos itu, kebanyakan orang sering terkecoh dengan kos bebas dan kos Las Vegas. Padahal, ini dua jenis kos yang berbeda. Kos bebas adalah kos yang bebas jam malam. Tidak ada drama dikunciin pemilik atau penjaga kos. Namun, aturannya adalah penghuni tidak boleh membawa lawan jenis ke dalam kamar.

Sementara kos Las Vegas lebih bebas dari kos bebas. Penghuninya boleh melakukan apa saja: pulang jam berapa maupun mengajak siapa ke kamar. Pemilik atau penjaga kos juga tidak mengawasi aktivitas penghuni. Aturan yang longgar ini kemudian menjadi daya tarik kos Las Vegas. Pendeknya, di kos ini boleh bawa ‘sepupu’ ke dalam. Tentu saja, sepupu yang dimaksud adanya samaran untuk menjelaskan identitas pasangan bukan resmi. Kata sepupu sendiri populer di Samarinda untuk menjelaskan hal-hal seperti itu.

Suasana yang mungkin sering kita ditemui di Las Vegas negara bagian Nevada, Amerika Serikat. Maka dari situlah muncul istilah kos Las Vegas. Gaya hidup kos-kosan eksklusif gaya Las Vegas ini merupakan bentuk baru dari istilah kumpul kebo.

Keunikan berikutnya dari kos Las Vegas yaitu waktu penyewaan. Kebanyakan kos disewakan dalam jangka waktu tahunan, bulanan, mingguan, hingga harian. Namun ternyata, di beberapa grup Facebook Samarinda, ada yang menawarkan kos Las Vegas per jam. Untuk harganya beragam, tergantung lama sewanya. Ada yang Rp 50 ribu per jam, Rp 350 ribu per hari, hingga Rp 2,5 juta per bulan.

Kalau ditanya, kos Las Vegas punya aturan atau tidak? Jawabannya ada. Namun, berdasarkan pengakuan Putri – tentu saja nama samaran, aturan di kos Las Vegas hanya formalitas. Seperti kos lain, kos Las Vegas dipasangkan selembar aturan di pintu depan. Terdapat banyak poin aturan, termasuk salah satunya dilarang membawa lawan jenis ke dalam kamar.

Meskipun pemilik atau penjaga kos Las Vegas membebaskan penghuninya, tetapi tidak dengan warga sekitar. Warga di lingkungan kos Las Vegas bisa saja menggerebek apabila ada tindak tanduk penghuni kos yang tidak sesuai norma kesusilaan. Ini memungkinkan, terlebih jika suatu kos sudah terkenal “bebas”. Penghuni kerap disindir hingga ditatap sinis oleh warga. Jadi, sebenarnya, tinggal di kos Las Vegas pun tidak benar-benar bebas.

Persimpangan Antara Kriminalitas dan Segregasi Sosial

Meski kategori indekos ini konon ada untuk memenuhi permintaan berbagai segmen pasar. Bagi sebagian orang, kos Las Vegas merupakan pilihan yang ideal, meski harus membayar lebih mahal. Namun, meskipun tinggal di kos Las Vegas juga bukan berarti harus ikut-ikutan bebas.

Masih segar dalam ingatan kita kasus pembuangan orok bayi ke kloset kosan oleh mahasiswi di Samarinda pada tahun 2018. Selain persoalan norma dan kriminalitas, kategori kos yang semakin beragam itu juga menyimpan persoalan lain. Yang paling terlihat adalah munculnya kos yang hanya menerima identitas tertentu, semisal muslim.

Segregasi semacam itu dimungkinkan karena kos semakin berubah fungsinya seiring perkembangan zaman. Sementara kos dulu merupakan tempat relasi sosial antara pemilik kos dan penyewa dibangun, “Kini masyarakat sendiri melihat kos sebagai sumber daya ekonomi”.


Penulis : Desy Alvionita
Editor: Amin

Trending