MAHAKAMA — Pertanyaan klasik “kapan nikah?” yang biasa menghantui meja makan saat Lebaran kini mulai kehilangan taringnya di hadapan ketakutan yang lebih nyata, yaitu kemiskinan.
Bagi sebagian besar Gen Z dan Milenial, bayang-bayang ketidakstabilan finansial kini jauh lebih menakutkan daripada stigma hidup melajang.
Pergeseran budaya ini bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan respons pragmatis terhadap tekanan ekonomi yang semakin menghimpit, mulai dari harga hunian yang tak masuk akal hingga jebakan sandwich generation.
Situasi dunia memang selalu dinamis, membentuk pola pikir dan tindakan setiap generasi manusia berbeda-beda.
Di Indonesia yang sudah berusia 80 tahun, jumlah penduduk miskin negeri ini menurut Bank Dunia per 2024 masih 194,4 juta jiwa atau 68,2 persen dari total populasi.
Meskipun Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pendapatan per kapita Indonesia tahun 2024 naik menjadi Rp 68,62 juta per tahun (Rp 6,55 juta per bulan), biaya untuk memenuhi kebutuhan hidup juga tinggi.
Sebagai contoh, Kalimantan Timur (Kaltim) yang dikenal sebagai salah satu provinsi dengan biaya hidup paling mahal, terutama di kota-kota besar seperti Balikpapan dan Samarinda, yang tercatat masuk dalam daftar kota dengan biaya hidup termahal di Indonesia.
Menurut survei BPS, rata-rata pengeluaran untuk rumah tangga di Kota Balikpapan sebesar Rp9,87 juta per bulan dan Rp9,44 juta per bulan di Kota Samarinda. Sementara itu, Upah Minimum Provinsi (UMP) Kaltim untuk tahun 2025 sebesar Rp3.579.313.
Paham menabung, tapi sulit konsisten

Populasi masyarakat Indonesia saat ini didominasi oleh Gen Z yakni 71,5 juta jiwa berdasarkan data Sensus Penduduk 2020. Sedangkan Gen Milenial ada di bawahnya, 69,7 juta jiwa.
Gaya hidup Gen Z sering dianggap mencerminkan hedonisme, konsumtif, dan impulsif. Namun sebenarnya Gen Milenial dan Gen Z lebih melek untuk menabung dan berinvestasi.
Populix mengadakan survei kepada Gen Z dan Milenial yang dirilis pada Juli 2025. Didapati bahwa sebanyak 42 persen dari mereka, didominasi oleh Milenial, langsung menyisihkan porsi pengeluaran dan untuk menabung ketika sudah memiliki pendapatan.
Lalu sebanyak 27 persen responden, mayoritas Gen Z, memilih menabung terlebih dahulu baru sisa pendapatan tersebut dihabiskan.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rahma Hidayati dkk (2025) dari Indonesia Banking School dengan judul Generation Z’s Consumption and Savings Preferences Amidst Economic Uncertainty: A Thematic Analysis Approach memaparkan bahwa Gen Z memiliki pemahaman dasar tentang pentingnya menabung, tetapi disiplin dan konsistensi menjadi tantangan.
Realitas di atas romantisme
Sebuah pergeseran prioritas milenial dan gen Z yang tajam terlihat dalam beberapa riset terbaru.
Berdasarkan data Big Alpha, sekitar 69,75% anak muda usia 16-30 tahun belum menikah di 2024, angka tertinggi dalam satu dekade terakhir. Sementara tren menikah muda terus menurun.
Selain itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 mengungkapkan peningkatan jumlah anak muda yang belum menikah dari 59,8 persen pada 2020 menjadi 68,3 persen pada 2023.

Tren ini bukanlah bentuk penolakan terhadap nilai keluarga, melainkan tindakan pragmatis dalam menghadapi tantangan ekonomi yang semakin kompleks.
Sementara itu, laporan Indonesia Millennial & Gen Z Report 2025 dari IDN Research menyebutkan bahwa ketidakstabilan ekonomi memainkan peran besar dalam membentuk pilihan hidup anak muda, khususnya dalam hal menunda pernikahan dan memiliki anak.
Sekitar 68 persen milenial dan 63 persen gen Z menyebutkan bahwa ketidakstabilan ekonomi, seperti ketidakpastian pekerjaan dan tingginya biaya hidup.
Prioritas kedua generasi tersebut adalah memiliki dana darurat dan hunian pribadi. Ketakutan terbesar mereka adalah menjadi beban bagi orang tua atau mewariskan kemiskinan pada anak (menjadi sandwich generation) serta tingginya biaya nikah dan menghidupi anak.
Cinta tidak bisa bayar KPR
Rara (25), seorang karyawan swasta di Samarinda mengaku bahwa gajinya yang sedikit di atas UMR habis untuk biaya hidup dan membantu orang tuanya.
“Jujur, aku lebih takut saldo ATM nol daripada nggak ada pasangan. Kalau jomblo, paling cuma kesepian pas malam minggu. Tapi kalau gak punya uang itu sengsara tiap hari. Aku nggak mau nikah kalau ujung-ujungnya cuma nambah beban buat pasangan atau malah bikin anakku susah nanti,” ujar Rara.
Senada dengan Rara, Dimas (29), freelancer fotografer di Balikpapan juga mengakui ketakutan akan kemiskinan membuatnya menunda pernikahan hingga batas waktu yang tidak ditentukan.
“Orang tua dulu bisa beli tanah dengan gaji pas-pasan. Sekarang? Nabung 5 tahun aja belum tentu kebeli DP rumah yang layak. Realistis aja, cinta nggak bisa bayar KPR” ucap Dimas
Pandangan Psikolog: Ini mekanisme pertahanan diri
Menanggapi fenomena ini, Alfiesyahrianta Habibie, Dosen Psikologi Universitas Mulawarman (Unmul), menjelaskan bahwa apa yang terjadi bukanlah tanda lunturnya nilai kekeluargaan, melainkan bentuk rasionalitas ekonomi.
Menurut Alfie, menurunnya angka pernikahan disebabkan faktor yang pertama yakni meningkatnya pemberdayaan perempuan, selanjutnya disusul kemiskinan dan finansial yang menjadi faktor kedua.
“Faktor kemiskinan jadi penghalang. Banyak pasangan menunda pernikahan karena kesulitan memenuhi kebutuhan hidup,” tuturnya.
Alfie menambahkan, anak muda saat ini terpapar media sosial yang memperlihatkan standar hidup tinggi. Mereka sadar bahwa membesarkan anak yang berkualitas, seperti pendidikan, gizi, dan kesehatan membutuhkan biaya yang sangat mahal. Ketakutan mereka valid.
“Banyak dari mereka melihat atau merasakan langsung betapa beratnya menjadi sandwich generation—harus membiayai orang tua sekaligus anak. Mereka ingin memutus rantai itu dengan cara mapan dulu sebelum menikah.” ucap Alfie.
Alfie menilai menikah tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang wajib, tapi sebagai pilihan luxury yang hanya diambil ketika seseorang sudah siap secara mental dan finansial.
Fenomena “lebih takut miskin daripada tidak nikah” adalah alarm bagi para pembuat kebijakan.
Anak muda Indonesia tidak anti-pernikahan, mereka hanya sedang berjuang untuk bertahan hidup di tengah ketidakpastian ekonomi.
Bagi mereka, memastikan dapur tetap ngebul adalah bentuk cinta diri sendiri yang paling logis sebelum membagi hidup dengan orang lain. (*)
Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin