By admin
01.11.25

Cerita Perantauan: Rumah Jadi Tak Seperti Rumah, Pulang Bagaikan Tamu di Rumah Sendiri

SEJAUH apapun kaki melangkah di tanah rantauan, rumah tetaplah tempat untuk pulang.

Namun, bertahun-tahun merantau membuat rumah terasa berbeda. Alih-alih menjadi tempat hangat untuk pulang, justru menjadi tempat yang asing.

Pulang ke rumah rasanya tak seperti penghuni asli, malah merasa sebagai tamu yang datang sesaat kemudian lekas pamit pergi. Ternyata ini memicu duka berkepanjangan.

Dulu tak betah di rumah, kini berubah kala orangtua menua

Nita (25) menceritakan kisahnya merantau hampir satu dekade di Kota Samarinda. Ia sebenarnya masih cukup beruntung, sebab, jarak tempat merantau dengan rumahnya hanya terhitung setengah hari perjalanan. Kendati demikian, ia kerap diserang duka nan menyesakkan.

“Saya merantau sejak 2017. Biasanya pulang kalau libur panjang atau Lebaran saja, itu pun hanya lima harian di rumah,” ungkap Nita.

Dulu, pulang ke rumah, meski sejenak, rasanya sudah cukup. Malah cenderung tak betah kalau berlama-lama di rumah.

Nita kemudian merasa berubah beberapa tahun belakangan: teramat banyak waktu yang dihabiskan di perantauan sampai orangtua berangsur menua. Ini memberi duka dan rasa bersalah. Menjelang masa tua mereka, Nita belum bisa sepenuhnya menemani.

Sialnya, Nita juga masih belum bisa meninggalkan perantauan. Sebab, dari sanalah sumber hidupnya. Kini, setiap pulang, semua terasa perih.

Ia merasa rindu dengan masa kecil, ketika bisa tidur di kamarnya dan menikmati masakan ibunya. Pulangnya ke rumah teramat singkat untuk perpisahan lagi yang terlampau lama.

Ketika merantau jadi pilihan untuk “menjadi orang”

Hal serupa juga dirasakan oleh Andi (31) dan Tiara (27). Mereka sama-sama meninggalkan kampung halaman sejak memasuki bangku kuliah. Andi merantau dari Makassar ke Surabaya, sementara Tiara merantau dari Kutai Barat ke Samarinda.

“Susah cari kerja kalau di kabupaten. Mau gak mau harus merantau” ujar Tiara.

Jarak yang membentang antara rumah dan tempat merantau membuat Andi dan Tiara tidak leluasa untuk pulang. Bisa saja pulang saat akhir pekan, namun waktunya akan habis di perjalanan. Sedangkan pekerjaan mereka tidak mengenal tanggal merah di kalender.

“Jadi nyesek tiap balik ke Surabaya, karena lihat mamak sebentar aja,” tutur Andi.

Di tanah rantau, kos adalah tempat tinggal. Akan tetapi, kos tetaplah kos. Bukan rumah. Andi dan Tiara merasa mereka tidak benar-benar ‘pulang’. Kos hanyalah tempat tinggal sementara, sementara rumah yang mereka huni sejak kecil hanya disinggahi sebentar, seperti bertamu.

Perasaan anak rantau dalam perspektif Psikologi

Eisenbruch dalam Social Science & Medicine (1991) menyebut pengalaman ini sebagai cultural bereavement, yaitu ketika migran (perantau) seringkali merasa seolah-olah kehilangan rumah, bahasa, bahkan sebagian jiwanya. Duka ini membuat seseorang seperti hidup di antara dua dunia, tanpa bisa pulang sepenuhnya ke salah satunya.

Dosen Psikologi Universitas Mulawarman, Alfiesyahrianta Habibie, menjelaskan bahwa komunikasi yang efektif antara orangtua dan anak memiliki peran penting dalam membantu anak mengatasi tekanan dan adaptif dengan lingkungannya.

Foto: Alfiesyahrianta Habibie, S.Psi., M.Psi (Dosen Psikologi Universitas Mulawarman)/Istimewa

“Pola komunikasi orang tua dan anak yang baik berperan dalam psikologis dan penyesuaian diri anak perantauan seperti meningkatkan ikatan emosional dan keterbukaan,” ujar Alfie.

Menurut Alfie, perasaan rindu terhadap orang, tempat, atau kebiasaan, merupakan hal yang normal pada anak rantau. Namun, komunikasi yang baik antara orang tua dan anak dapat membangun ikatan yang harmonis serta saling mendukung.

Alfie juga memberikan tips untuk anak rantau agar dapat mengobati rasa homesickness.

  • Teknologi adalah sahabat terbaikmu untuk mengurangi jarak. Update kabar kepada keluarga dan jadwalkan panggilan rutin.
  • Jalin kembali komunikasi dengan orang-orang lama. Tidak hanya nostalgia, tetapi menjaga keakraban.
  • Buat diri nyaman saat merantau, seperti memasak makanan khas rumah saat di kos.
  • Akui dan kelola emosi. Izinkan diri merasa sedih atau kesepian. Berdamai dengan perasaan adalah normal. Menyangkalnya justru bisa membuat diri makin tertekan.

Alfie menambahkan, jika hal-hal tersebut tidak dapat dilakukan, maka perlu bimbingan konseling profesional. “Tidak ada salahnya berkomunikasi dengan psikolog atau konselor untuk mengenali masalah dan solusinya,” ucapnya.

Perantau seringkali melalaikan komunikasi terhadap keluarga dengan alasan kesibukan tertentu. Padahal, keluarga adalah support system terpenting untuk memberikan kekuatan ketika sedang jauh dari rumah.

Dalam kehidupan selalu ada momen perpisahan dengan orangtua. Namun, selagi mereka masih ada, hendaknya kamu untuk tetap menyayangi meski kini tak lagi berada di bawah atap yang sama. Jadi, sudah menelepon ayah dan ibu hari ini?


Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin

Trending