MAHAKAMA — Bagi warga Jawa—khususnya klan nrimo ing pandum dari Jogja dan Solo—Kalimantan sering digambarkan sebagai tanah harapan. Sebuah El Dorado modern di mana uang tumbuh di pohon kelapa sawit dan batu bara berceceran di jalanan menunggu dipungut.
Imajinasi sederhana: Merantau ke Kalimantan, kerja di “site“, gaji dua digit, pulang kampung beli Nmax tunai, lalu melamar anak Pak Lurah.
Namun, realitas sering kali menampar lebih keras daripada omongan tetangga. Begitu kaki ini menginjak tanah Borneo—entah itu Balikpapan, Samarinda, Palangkaraya, Banjarmasin, atau daerah lainnya—ilusi menjadi “Sultan” itu perlahan runtuh.
Syok Terapi Beli Lalapan

Mari kita luruskan satu hal. Iya, rata-rata UMR atau gaji di Kalimantan memang lebih tinggi dibanding UMR Jogja yang sering bikin ngelus dada itu.
UMP 2025 untuk provinsi Kalimantan Utara sebesar Rp3.580.160, Kalimantan Timur sebesar Rp3.579.313, Kalimantan Selatan sebesar Rp3.496.194, Kalimantan Tengah sebesar Rp3.473.621, dan Kalimantan Barat sebesar Rp2.878.286. Tapi, hukum ekonomi kejam: Gaji naik dikit, harga barang naik ugal-ugalan.
Mahakama bertemu dengan Wahyu (26), perantau asal Solo yang baru enam bulan bekerja di sebuah perusahaan kontraktor di Balikpapan. Wajahnya seperti menyiratkan trauma mendalam terhadap harga makanan.
“Wah, kaget pol aku. Di Solo, bawa duit Rp15 ribu itu udah dapet soto ayam, sate telur puyuh dua, sama es teh manis, masih ada kembalian buat parkir. Lha di sini? Kemarin aku makan di warung biasa, pesen nasi campur sama es teh, habisnya Rp35 ribu,” ucapnya.
Wahyu menambahkan, jebakan batman terbesar ada di “Lalapan”. Di Jawa, lalapan lele adalah penyelamat akhir bulan. Di Kalimantan, lele sepertinya dianggap seafood impor.
“Di sini lele itu harganya kayak ikan impor. Sekali makan penyetan ayam atau lele, minimal Rp25 ribu sampai Rp30 ribu. Kalau sehari makan tiga kali, ya itung wae, gaji UMR sini cuma numpang lewat doang,” kata Wahyu
Kos-kosan Mahal, Fasilitas “Seadanya”

Bukan cuma urusan perut, urusan tempat berteduh juga bikin migrain. Mencari kos di kota besar Kalimantan tapi harga masuk akal dan fasilitas memadai itu butuh kesabaran.
Dinda (24), seorang fresh graduate asal Semarang yang mengadu nasib di Samarinda, berbagi kisah pilunya mencari hunian layak huni yang ramah di kantong.
“Ekspektasiku kan gaji Rp6 juta di sini tuh udah gede banget ya dibanding Semarang. Jebul (ternyata) sama aja bohong. Aku nyari kos yang ada AC-nya—soalnya Kalimantan panasnya kayak ada lima matahari—itu harganya minimal Rp1,8 juta sampai Rp2,5 juta. Itu pun kadang airnya suka mati,” ujar Dinda
Dinda juga menyoroti biaya laundry yang sering kali tidak masuk akal bagi standar Jawa.
“Di Semarang laundry Rp4.000 sekilo udah wangi, disetrikain rapi. Di sini rata-rata Rp8.000 sampai Rp10.000 sekilo. Kalau nggak nyuci sendiri, gajimu habis cuma buat bayar tukang cuci. Tapi kalau nyuci sendiri, air PDAM-nya kadang warnanya kayak Milo. Bingung kan?” katanya.
Jebakan Gaya Hidup

Masalah utamanya bukan hanya harga barang pokok, tapi juga godaan gaya hidup. Raka (28), perantau asal Surabaya yang sudah 3 tahun di Banjarmasin, memberikan pandangan yang lebih filosofis (baca: pasrah).
“Sebenarnya bisa hemat, tapi susah. Di sini hiburan kurang, nggak kayak di Jawa yang banyak pilihan murah meriah. Akhirnya lari ke mall atau coffee shop. Nah, harga kopi di sini itu standar Jakarta Selatan semua. Sekali nongkrong Rp50 ribu – Rp100 ribu melayang. Niat hati mau nabung buat nikah, eh malah boncos buat ngopi,” kata Raka.
Jangan Kalap Angka
Jadi, buat kamu sobat pencari kerja dari Jawa yang sedang menimang-nimang tawaran kerja di Kalimantan, jangan cuma lihat angka gajinya.
Gaji Rp4 juta di Kalimantan itu “rasanya” secara daya beli mungkin setara dengan gaji UMR di Jogja. Bukan berarti nggak bisa nabung, bisa kok. Asal kamu nggak bergaya hidup sosialita, nggak tiap hari nongkrong, dan rela masak sendiri di kosan.
Seperti kata Wahyu di akhir obrolan dengan Mahakama, “Saran buat yang mau merantau ke sini, selain bawa mental, skill masak juga penting”
Selamat merantau, semoga nggak cuma pulang bawa cerita, tapi juga bawa duit beneran. (*)
Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin