By admin
04.12.25

Aroma yang Mengajak Pulang: Perjalanan Nostalgia Lewat Semangkuk Makanan

MAHAKAMA — Makanan menenangkan atau comfort food, memang lebih dari sekadar hidangan yang mengenyangkan. Ia adalah sejenis mesin waktu yang unik.

Saat aroma khasnya tercium atau ketika suapan pertamanya menyentuh lidah, tanpa disadari, seseorang tiba-tiba “tersedot” kembali ke masa silam, menghadirkan ingatan hangat yang kadang sudah lama terlupakan.

Secara ilmiah, ingatan dapat bangkit melalui aroma makanan karena mekanisme kerja otak yang unik. Ketika seseorang mencium aroma tertentu, sinyalnya langsung diproses oleh amigdala dan hipokampus.

Kedua bagian otak ini dikenal sebagai pusat pemrosesan emosi dan memori. Maka, jangan heran jika ingatan seseorang akan aroma tertentu bakal bertahan sangat lama, bahkan bisa seumur hidup. Apalagi, jika aroma penuh kenangan tadi pertama kali dikenal seseorang di masa kecilnya.

Melinda Wenner Moyer, dalam artikelnya “The Science of Comfort Food” di surat kabar The New York Times, menyebutkan bahwa kenikmatan menyantap comfort food bisa memicu perasaan bahagia sekaligus menghadirkan kenangan.

Penelitian lain memperkuat hal ini. Dr. Megan Lee dalam artikel ilmiahnya “How To Embrace Food Nostalgia” di laman Bond.edu.au menyebut, 8 orang yang diwawancarainya mengaku bisa memanfaatkan makanan yang berkaitan dengan masa lalu untuk memanipulasi dan memengaruhi suasana hati mereka.

Makanan sejenis itu kebanyakan memang terbawa dari masa lalu, terutama saat penikmatnya masih kecil.

Visualisasi Kehangatan dalam Film Fiksi

Gambaran tentang sensasi penuh kenangan menghangatkan saat mengonsumsi comfort food juga divisualkan dengan sangat baik lewat beberapa film fiksi. Contoh paling ikonik adalah adegan di film animasi “Ratatouille” (2007).

Dalam salah satu adegan paling menyentuh, kritikus makanan yang keras dan ditakuti, Anton Ego, kembali menjadi anak kecil yang rapuh saat mencicipi hidangan sederhana Ratatouille buatan koki tikus, Remy.

Hidangan sederhana ala Prancis berisi serba sayuran yang dipanggang itu ternyata biasa dimasak ibunya saat Anton Ego sakit atau bersedih. Ada rasa nyaman, hangat, dan haru di setiap suapan Anton Ego sambil mengingat Sang Ibu.

Contoh lain hadir dalam film “Food Luck” (2020) yang menyajikan kisah seorang penulis situs kuliner yang kembali ke restoran yakiniku milik keluarganya, menemukan kembali jati diri melalui setiap potongan daging yang disajikan, yang menyimpan memori dan harapan keluarga.

Pelukan dalam Semangkuk Makanan

Bagi banyak orang, aroma comfort food adalah representasi konkret dari rasa aman, kasih sayang, dan kebersamaan.

Kenangan yang muncul pun beragam, mulai dari ingatan tentang orang, tempat, atau bahkan momen dan suasana saat pertama kali menikmati masakan itu.

Risa (28), seorang wiraswasta, menceritakan kisahnya yang menghangatkan.

“Setiap kali mencium aroma soto banjar dengan taburan bawang goreng yang banyak, saya langsung teringat nenek saya. Beliau selalu buatkan soto banjar kalau saya sakit. Bukan hanya rasa, tapi aroma rempah dan kaldu hangatnya itu seperti pelukan, seperti anak kecil yang sedang disayang,” ujarnya.

Rasa rindu pada rumah juga diungkapkan oleh Bagus (33), seorang desainer grafis yang tinggal di perantauan.

“Saya dari kecil tinggal di perantauan, jadi jarang makan masakan ibu. Tapi, kalau ada yang menjual sayur lodeh dengan kuah agak kental, seketika bau santan dan bumbu-bumbu itu ‘mengangkut’ saya ke dapur rumah. Mengingatkan momen sore hari saat ibu selesai memasak, dan rumah berbau seperti itu,” kata Bagus.

Sementara itu, Santi (31), seorang guru, mengenang momen kebersamaan keluarga lewat aroma.

“Bubur kacang hijau yang dijual di gerobak pinggir jalan, dengan aroma jahe yang kuat. Dulu, setiap malam Minggu, Ayah selalu membelikan kami satu porsi. Aromanya bukan hanya mengingatkan pada kacang hijau, tapi pada kebersamaan kami sekeluarga, duduk di teras rumah sambil menikmati bubur panas. Itu adalah momen sederhana tapi sangat membahagiakan,” ucap Santi.

Comfort food telah membuktikan fenomena yang melampaui rasa dan waktu. Ia adalah jembatan emosional, penghubung ingatan, dan pemicu kebahagiaan sejati.

Pada akhirnya, aroma comfort food adalah peta emosional yang tak lekang waktu. Ia pengingat bahwa kebahagiaan dan kenyamanan sering kali tersimpan dalam hal-hal yang paling sederhana—seperti uap hangat dari semangkuk masakan masa kecil.

Dalam setiap suapan, tersimpan kenangan berharga yang membuat kita merasa utuh, dicintai, dan paling penting: merasa kembali pulang. (*)

Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin

Trending