MAHAKAMA — Di tengah hiruk-pikuk notifikasi media sosial, tekanan kerja yang tak masuk akal, dan ketidakpastian ekonomi global, sebuah aliran filsafat kuno berusia 2.000 tahun kembali naik daun, yaitu Stoikisme.
Namun, kebangkitan tren ini memicu diskusi mendalam. Apakah Stoikisme hanyalah “kedok” bagi mereka yang lemah dan pasrah menerima nasib? Atau justru, ini adalah senjata rahasia bagi mereka yang ingin membangun mentalitas tak tergoyahkan di dunia yang semakin gila ini?
Stoikisme Bukan Sikap “Bodo Amat”
Banyak orang yang baru mendengar istilah ini sering menyalahartikan Stoikisme sebagai sikap apatis, tidak punya emosi, atau pasrah total layaknya orang kalah.
Stigma ini muncul karena anggapan bahwa seorang Stoik—sebutan untuk penganut Stoikisme, hanya diam saat ditimpa masalah.
Faktanya, Stoikisme, yang dipopulerkan di Indonesia lewat buku mega-bestseller “Filosofi Teras” karya Henry Manampiring, jauh dari definisi menyerah.

Dalam bukunya, Henry menjelaskan bahwa Stoikisme bukanlah tentang mematikan emosi seperti robot, melainkan tentang mengendalikan persepsi.
Filosofi ini tidak mengajarkan kita untuk lari dari masalah, tetapi mengajarkan cara menghadapi masalah tanpa kehilangan kewarasan.
Dikotomi Kendali
Jika Stoikisme bukan untuk orang lemah, lalu apa yang membuatnya menjadi senjata bagi orang kuat? Jawabannya terletak pada prinsip fundamental yang disebut Henry Manampiring sebagai Dikotomi Kendali.
Dunia ini dibagi menjadi dua hal. Pertama, hal yang bisa kita kendalikan seperti pikiran, persepsi, tujuan, dan tindakan kita sendiri. Kedua, hal yang tidak bisa kita kendalikan, meliputi opini orang lain, cuaca, kemacetan lalu lintas, masa lalu, kondisi ekonomi, dan lain sebagainya.
“Orang lemah menghabiskan energinya untuk meratapi hal-hal di luar kendali mereka. Orang kuat (Stoik) memfokuskan 100% energinya pada apa yang bisa mereka lakukan untuk merespons situasi tersebut,” tulis Henry dalam buku Filosofi Teras.
Henry mengumpamakan ini dalam konteks yang sangat relatable. Saat terjebak macet di Jakarta, marah-marah dan memukul klakson adalah tindakan sia-sia.
Sebab, hal ini terjadi di luar kendali. Namun, memilih untuk mendengarkan lagu atau podcast untuk melatih kesabaran saat macet adalah kendali kita. Itulah kekuatan sejati seorang stoik.
Henry Manampiring menggunakan istilah “Filosofi Teras” sebagai terjemahan dari kata Stoa, yang artinya teras dalam bahasa Yunani kuno, tempat Zeno dari Citium pertama kali mengajarkan filosofi ini.
Buku ini menjadi fenomena karena berhasil membuktikan bahwa filosofi Yunani-Romawi kuno ini justru sangat relevan untuk manusia modern Indonesia yang rentan baper, cemas, dan overthinking.
Henry menekankan bahwa menjadi Stoik butuh kekuatan mental yang besar. Dibutuhkan disiplin tinggi untuk tidak ikut-ikutan tersinggung saat orang lain marah, tetap tenang saat rencana berantakan, serta mengubah hambatan menjadi jalan.
Dikutip dalam Filosofi Teras, saat menghadapi masalah, kita dapat melakukan metode STAR, yaitu:
- S (Stop): Berhenti sejenak saat emosi negatif muncul. Jangan langsung bereaksi.
- T (Think): Pikirkan, apakah hal yang membuat emosi ini ada di bawah kendali saya?
- A (Assess): Nilai situasinya. Apakah ini fakta atau hanya interpretasi saya?
- R (Respond): Respon dengan kepala dingin dan tindakan yang konstruktif.
Mentalitas Anti-Rapuh
Jadi, apakah Stoikisme untuk orang lemah? Jawabannya tentu saja tidak.
Orang yang lemah akan menyalahkan dunia atas penderitaan mereka. Stoikisme justru menuntut tanggung jawab pribadi yang ekstrem.
Ini adalah filosofi bagi mereka yang berani berkata, “Dunia boleh hancur dan kacau, tapi pikiran saya tetap benteng yang tak bisa ditembus”.
Kita berada di era di mana kesehatan mental menjadi isu krusial. Kemudian, stoikisme menawarkan “perisai” dan “pedang”. Perisai untuk menangkis hal-hal negatif yang tidak penting, dan pedang untuk membedah mana masalah nyata dan mana yang hanya ketakutan di kepala kita sendiri. (*)
Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin