By admin
17.12.25

Si “Petani Hutan” yang Nggak Banyak Gaya: Mengenal Rangkong, Penjaga Setia Hutan Kalimantan

Potret Burung Rangkong/Dok. marariversafarilodge

MAHAKAMA — Di tengah hiruk pikuk kabar kerusakan hutan yang semakin bikin pusing, ternyata ada satu sosok pahlawan tanpa tanda jasa yang diam-diam terus bekerja. Dia adalah Rangkong atau yang akrab disapa Enggang oleh warga Kalimantan.

Rangkong dikenal sebagai burung monogami. Mereka hanya punya satu pasangan seumur hidup.

Saat musim bersarang, burung betina akan mengurung diri di dalam lubang pohon yang ditutup lumpur untuk mengeram.

Selama berbulan-bulan, burung jantan akan setia mengantar makanan melalui celah kecil. Kalau si jantan mati diburu, betina dan anaknya di dalam pohon juga terancam kelaparan.

Bagi masyarakat Dayak, burung dari famili Bucerotidae ini bukan sekadar unggas biasa.

Rangkong adalah simbol suci—lambang kekuatan, kemuliaan, dan pelindung alam yang merepresentasikan kehadiran leluhur.

Tapi di balik kesakralannya, Rangkong punya pekerjaan harian yang luar biasa penting bagi keberlangsungan bumi.

Kurir Biji di Hutan Alam

Cara Rangkong menyelamatkan hutan itu simpel, yaitu makan buah. Tapi, jangan salah sangka dulu. Menurut jurnal Acta Oecologica, Rangkong adalah juara dunia dalam urusan menyebarkan biji.

Mereka memakan buah-buahan di hutan alam. Sambil terbang berkilo-kilo meter, mereka menyebarkan biji-bijian melalui kotorannya.

Tanpa bantuan Rangkong, banyak pohon besar di Kalimantan bakal kesulitan untuk beregenerasi.

Itulah sebabnya para peneliti sering menyebut mereka sebagai “Petani Hutan”. Satu ekor Rangkong bisa menebar ribuan benih pohon sepanjang hidupnya.

Ada fakta menarik dari penelitian di jurnal Pubmed (2024). Pola terbang Rangkong itu sangat bergantung pada kondisi tajuk atau atap hutan.

Jika hutan rapat, Rangkong terbang dengan teratur dan biji tersebar merata. Namun, jika hutan rusak, maka Pola terbang jadi kacau, dan penyebaran biji pun berantakan.

Sehingga, Rangkong butuh hutan yang sehat untuk hidup, dan hutan butuh Rangkong agar bisa terus regenerasi.

Berdasarkan penelitian dari IPB tahun 2024 di kawasan Taman Nasional, makanan Rangkong ternyata sangat variatif. Mereka nggak pilih-pilih dalam membantu alam.

Rangkong mengonsumsi puluhan jenis buah mulai dari Ficus, Myristica, hingga Horsfieldia. Dengan memakan beragam jenis buah ini, mereka secara otomatis menjaga keanekaragaman jenis pohon di hutan.

Mengapa Kita Harus Peduli?

Rangkong adalah “Petani hutan terbang” yang bekerja tanpa minta gaji.

Sayangnya, populasi Rangkong, terutama jenis Enggang Gading, sedang terancam punah.

Selain karena habitatnya yang menyempit akibat pembukaan lahan, mereka juga jadi incaran pemburu liar karena cula atau balung di atas paruhnya dihargai sangat mahal di pasar gelap.

Jika mereka punah, regenerasi hutan akan melambat drastis karena kehilangan distributor utama bibit-bibit pohon raksasa.

Kalau burung Enggang saja bisa menjaga hutan tanpa pamrih, masa kita yang menikmatinya malah diam saja? Menjaga hutan berarti menjaga rumah bagi sang petani terbang ini. (*)

Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin

Trending