By admin
22.11.25

Obat dari Dalam Diri, Cara Narapidana Wanita di Lapas Samarinda Melawan Kecemasan

Obat dari Dalam Diri, Cara Narapidana Wanita di Lapas Samarinda Melawan Kecemasan/Ilustrasi

MAHAKAMA – Di balik hijaunya Kalimantan, tersimpan kisah kelam tentang maraknya peredaran narkotika. Di Kalimantan Timur, Polda mencatat 1.774 kasus narkoba berhasil diungkap. Dari total pengguna, diperkirakan 92,8 persen adalah laki-laki dan 7,2 persen perempuan. Angka ini menunjukkan bahwa perempuan pun kini ikut terseret dalam lingkaran gelap narkotika.

Bagi sebagian perempuan yang terjerat kasus ini, hukuman penjara menjadi babak baru yang tak kalah berat. Hidup di balik jeruji bukan hanya soal kehilangan kebebasan, tapi juga menghadapi tekanan psikologis yang besar. Dimulai dari rasa bersalah, jauh dari keluarga, hingga stigma masyarakat. 

Tekanan itu membuat banyak warga binaan perempuan mengalami gangguan mental, terutama kecemasan. Rasa cemas ini biasanya memuncak menjelang masa bebas karena mereka takut tak diterima kembali oleh lingkungan.

Penelitian Ungkap Hubungan Penerimaan Diri dan Kecemasan

Masalah ini diteliti oleh Ajeng Putri Nawang Wulan dan Annastasia Ediati lewat riset berjudul “Hubungan antara Penerimaan Diri dengan Kecemasan pada Warga Binaan Pemasyarakatan Wanita Kasus Narkotika di Kalimantan Timur.” Penelitian ini dimuat dalam Jurnal Empati Volume 8, Nomor 1, tahun 2019.

Sebanyak 98 warga binaan wanita di Lapas Narkotika Kelas III Samarinda menjadi responden penelitian ini. Mereka terdiri dari pengguna maupun pengedar narkoba yang sudah menjalani masa hukuman minimal tiga bulan. 

Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Peneliti memilih responden yang memenuhi kriteria tertentu agar hasilnya lebih relevan dengan tujuan penelitian.

Data dikumpulkan menggunakan dua alat ukur utama. Pertama, Depression Anxiety Stress Scale (DASS). Kuesioner ini dirancang untuk menilai tingkat depresi, kecemasan dan stres seseorang melalui 11 pertanyaan sederhana.

Kedua, Berger’s Self-Acceptance Scale, alat ukur dengan 28 pernyataan yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana seseorang menerima dirinya sendiri, termasuk kekurangan dan masa lalunya. Kombinasi kedua alat ini membantu peneliti memahami hubungan antara penerimaan diri dan tingkat kecemasan pada warga binaan.

Hasil: Semakin Menerima Diri, Semakin Rendah Cemas

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi kemampuan warga binaan untuk menerima diri, semakin rendah tingkat kecemasan yang mereka rasakan. Sebaliknya, makin sulit seseorang berdamai dengan dirinya sendiri, makin besar rasa cemas yang muncul.

Warga binaan yang dapat menerima diri secara utuh cenderung tidak lagi terjebak rasa malu atau rendah diri. Mereka lebih siap kembali ke masyarakat tanpa takut mengulangi kesalahan yang sama. Temuan ini sejalan dengan hasil studi Chamberlain dan Haaga. Studi tersebut menunjukkan penerimaan diri berpengaruh negatif terhadap kecemasan.

Di samping itu, temuan ini juga sejalan dengan penelitian Nadira dan Zarfiel dengan judul “Hubungan antara Penerimaan Diri dan Kecemasan Menghadapi Masa Depan pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia”. Penelitian mereka menunjukkan adanya hubungan negatif dan signifikan antara penerimaan diri dengan kecemasan menghadapi masa depan.

Para peneliti menekankan, menerima diri bukan berarti menyerah pada keadaan. Justru, penerimaan diri membantu warga binaan lebih realistis melihat masa lalu dan berani memperbaiki diri.

Bagi perempuan yang pernah terlibat narkotika, menyadari bahwa penolakan sosial mungkin terjadi adalah langkah awal. Dengan begitu, mereka bisa membangun ketenangan batin dan mengurangi kecemasan.

Peran Lapas: Bukan Sekadar Menjaga, tapi Menumbuhkan Harapan

Penelitian ini juga menegaskan pentingnya peran lembaga pemasyarakatan. Pembinaan di Lapas seharusnya tidak hanya fokus pada disiplin, tetapi juga menciptakan lingkungan yang aman dan damai agar warga binaan merasa diterima.

Dengan dukungan psikologis dan program penerimaan diri, proses reintegrasi sosial akan lebih mudah. Hasil akhirnya: warga binaan siap kembali ke masyarakat tanpa beban mental berlebih.

Penerimaan diri terbukti berperan penting dalam menurunkan kecemasan dan meningkatkan kesiapan psikologis warga binaan wanita kasus narkotika di Kalimantan Timur. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending