Mahakama.co.id – Penelitian terbaru mengungkap bahwa beruang kutub saat ini lebih rentan terhadap infeksi virus, bakteri, dan parasit dibandingkan tiga dekade lalu. Studi yang dilakukan oleh ilmuwan terhadap sampel darah beruang di Laut Chukchi menunjukkan bahwa pemanasan di wilayah Arktik dan hilangnya es laut turut berpengaruh pada kesehatan satwa ini. Peter Barritt/Superstock, via Alamy
Analisis Sampel Selama Tiga Dekade
Para peneliti memeriksa sampel darah yang dikumpulkan pada tahun 1987 hingga 1994 dan membandingkannya dengan sampel dari 2008 hingga 2017. Hasilnya, banyak dari sampel terbaru menunjukkan adanya lima jenis patogen, seperti parasit penyebab toksoplasmosis dan neosporosis, bakteri penyebab tularemia dan brucellosis, serta virus distemper anjing. Penemuan ini telah dipublikasikan dalam jurnal PLOS One pada 23 Oktober 2024.
Perubahan Ekosistem yang Mempengaruhi Kesehatan Satwa
Menurut Karyn Rode, ahli biologi satwa liar dari Survei Geologi AS, meski sulit mengetahui dampaknya secara langsung, adanya patogen pada sampel darah ini mengindikasikan perubahan signifikan di ekosistem Arktik. Peneliti menemukan bahwa beberapa patogen yang sebelumnya terkait dengan hewan darat kini semakin sering ditemukan pada beruang kutub, diduga berasal dari spesies mangsa mereka di darat.
Ancaman Habitat dan Tantangan Masa Depan

Beruang kutub kini masuk kategori spesies yang terancam punah di AS, terutama karena hilangnya es laut yang menjadi habitat utama mereka. Kondisi ini mengakibatkan beruang kutub kesulitan mendapatkan kalori yang cukup, karena lebih banyak menghabiskan waktu di darat daripada di es laut. Rode menyatakan bahwa perubahan paparan patogen pada beruang kutub juga mencerminkan perubahan yang dialami spesies lain di Arktik. (net/ra)