MAHAKAMA – Di balik keindahan alam Nusa Tenggara Timur, masyarakat Suku Lamaholot masih menjaga ritual adat yang penuh filosofi. Tradisi tersebut dikenal sebagai Lewak Tapo, prosesi sakral untuk mencari penyebab kematian yang dianggap tidak wajar dengan cara membelah kelapa.
Makna di Balik Ritual Lewak Tapo
Lewak Tapo berasal dari dua kata dalam bahasa Lamaholot, yaitu lewak yang berarti “membelah” dan tapo yang berarti “kelapa”. Ritual ini diyakini sebagai cara memahami pesan spiritual di balik kematian, terutama jika kematian itu terjadi secara mendadak atau tidak wajar.
Bagi masyarakat Lamaholot, setiap kematian tidak hanya menyangkut kehidupan manusia, tetapi juga menyentuh keseimbangan antara dunia roh, alam, dan leluhur. Karena itu, ritual Lewak Tapo dilakukan untuk menenangkan arwah dan menjaga keselamatan keluarga yang ditinggalkan.
Proses dan Filosofi Ritual
Upacara Lewak Tapo biasanya dipimpin oleh tetua adat atau imam kampung yang dipercaya memiliki kemampuan membaca tanda-tanda alam. Sebuah kelapa dipilih secara khusus, lalu dibelah dua di hadapan keluarga almarhum sambil diiringi doa dan mantra adat.
Dari bentuk belahan kelapa, arah jatuhnya, hingga posisi air di dalamnya, tetua adat menafsirkan penyebab kematian dan pesan spiritual yang perlu disampaikan. Proses ini bukan sekadar mencari jawaban, melainkan langkah simbolik untuk memulihkan harmoni sosial dan spiritual di tengah masyarakat.
Kelapa dipilih karena maknanya yang dalam. Dalam pandangan Lamaholot, kelapa adalah lambang kehidupan setiap bagiannya bermanfaat, dari akar hingga buah. Membelah kelapa berarti “membuka rahasia kehidupan dan kematian” dengan penuh penghormatan.
Fungsi Sosial dan Pelestarian Budaya
Menurut Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bali–NTT–NTB dalam Ensiklopedia Budaya NTT (2020), Lewak Tapo memiliki fungsi sosial yang kuat. Ritual ini memperkuat solidaritas antarwarga, menyelesaikan ketegangan batin, sekaligus menjaga identitas budaya Lamaholot.
Penelitian Y. Fernandez (2018) dalam Jurnal Antropologi Indonesia juga menyebut bahwa Lewak Tapo merupakan simbol keterhubungan antara manusia, alam, dan roh leluhur. Tradisi ini menjadi sarana masyarakat Lamaholot untuk memahami kehidupan secara utuh, sekaligus menjaga hubungan spiritual di tengah arus modernisasi.
Kini, ritual Lewak Tapo telah terdaftar sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek RI) pada tahun 2022.
Warisan dari Timur Indonesia
Lewak Tapo bukan sekadar ritual adat, melainkan manifestasi kearifan lokal Indonesia Timur. Ia mengajarkan bahwa kehidupan dan kematian adalah bagian dari siklus yang harus dihormati, bukan ditakuti.
Dari kelapa yang dibelah, masyarakat Lamaholot menyampaikan pesan universal: kedamaian hanya tercapai ketika manusia hidup selaras dengan alam dan leluhur. (*)