Mahakama.co.id – Muslim di Eropa tengah menghadapi lonjakan kasus rasisme dan diskriminasi yang semakin mengkhawatirkan, sebagian besar dipicu oleh retorika anti-Muslim yang semakin lantang. Berdasarkan survei terbaru yang dirilis oleh Badan Hak Asasi Fundamental Uni Eropa (FRA), hampir setengah dari Muslim yang disurvei mengaku mengalami diskriminasi dalam beberapa waktu terakhir. “Kami melihat peningkatan yang mengkhawatirkan dalam kasus rasisme terhadap Muslim di Eropa,” jelas Direktur FRA, Sirpa Rautio.
Dampak Konflik Timur Tengah dan Retorika Anti-Muslim
Rautio menambahkan bahwa meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, ditambah pernyataan anti-Muslim yang keras, turut memperburuk situasi. Survei terhadap 9.600 Muslim di 13 negara Uni Eropa ini menemukan bahwa diskriminasi berdampak luas pada kehidupan sehari-hari, termasuk perundungan di sekolah, sulitnya mendapatkan pekerjaan, hingga diskriminasi dalam mengakses perumahan.
Langkah Penanggulangan Terhadap Kejahatan Kebencian
Pemerintah di Eropa juga berusaha mengatasi peningkatan ancaman terhadap komunitas Muslim dan Yahudi, dengan insiden seperti pembakaran sinagoge di Berlin serta ancaman terhadap masjid di Prancis yang turut meningkatkan kekhawatiran publik.
Data FRA: Lonjakan Diskriminasi sejak 2016

Menurut laporan FRA, 47% responden Muslim melaporkan mengalami diskriminasi dalam lima tahun terakhir, meningkat dari 39% pada tahun 2016. Salah satu peneliti survei, Vida Beresnevičiūtė, menyatakan bahwa “kehidupan bagi umat Muslim di Eropa semakin sulit.” (net/ra)