By admin
26.10.24

Biden Sampaikan Permintaan Maaf atas Ketidakadilan terhadap Penduduk Asli Amerika

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden. (Foto: Akun X POTUS)

Mahakama.co.id – Presiden Amerika Serikat Joe Biden pada Jumat (25/10) secara resmi meminta maaf kepada komunitas penduduk asli Amerika terkait perlakuan ketidakadilan yang mereka alami dalam sejarah, terutama melalui sekolah-sekolah asrama yang didanai pemerintah. Biden menggambarkan masa itu sebagai “salah satu babak tergelap dalam sejarah Amerika,” dan menyoroti bahwa generasi anak-anak pribumi terpaksa mengalami tekanan berat di sekolah-sekolah tersebut untuk meninggalkan budaya asli mereka.


Cerita di Balik Sekolah Asrama

Berbicara di hadapan komunitas penduduk asli di Sekolah Komunitas Gila Crossing, Biden menjelaskan bahwa selama lebih dari satu abad, pemerintah AS mendukung ratusan sekolah asrama yang menampung sekitar 18.000 anak-anak pribumi. Di sana, mereka dipisahkan dari keluarga dan dipaksa beradaptasi dengan budaya yang asing. Kondisi ini menyebabkan banyak dari mereka mengalami perlakuan yang tidak manusiawi, baik secara fisik maupun emosional, dan sebagian bahkan diadopsi tanpa izin orang tua mereka.

Hasil Kajian Menunjukkan Temuan Tragis

Kesadaran akan masa lalu ini kembali muncul tiga tahun lalu, saat Menteri Dalam Negeri AS Deb Haaland—pejabat pribumi pertama di Kabinet AS—meluncurkan kajian mendalam terhadap sekolah-sekolah asrama tersebut. Hasilnya, ditemukan bahwa setidaknya 973 anak pribumi meninggal dunia saat berada di sekolah-sekolah ini, menimbulkan luka mendalam yang diwariskan bagi generasi penerus penduduk asli Amerika.

Komitmen untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Joe Biden. (Foto: REUTERS/Elizabeth Frant)

Biden menyatakan bahwa permintaan maaf ini seharusnya sudah disampaikan sejak lama. Walau tak dapat mengubah apa yang telah terjadi, Biden menegaskan komitmennya untuk membawa AS melangkah keluar dari sejarah kelam ini dan menuju masa depan yang lebih baik serta adil bagi generasi penduduk asli Amerika. (net/ra)

Trending