
MAHAKAMA.CO.ID – Kebutuhan pangan di Kalimantan Timur (Kaltim) akan meningkat seiring peningkatan penduduk, mengingat adanya pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Dimana, Pembangunan IKN diprediksi bakal berdampak ke sejumlah daerah di Kaltim.
Untuk itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim saat ini, sedang menyiapkan sejumlah infrastruktur pertanian, seperti membangun jaringan air untuk mengalirkan air dari bendungan ke sejumlah sentra pertanian dan persawahan.
Selain menuntaskan Bendungan Marangkayu, tahun 2022, Pemprov Kaltim juga membangun jaringan primer sepanjang 200 meter dan pembuatan jaringan sekunder sepanjang 664 meter.
Kepala Dinas PUPR-Pera Kaltim Aji Muhammad Fitra Firnanda, menjelaskan sejak awal RPJMD 2018-2023, hingga tahun terakhir kepemimpinan Gubernur Isran Noor dan Wakil gubernur Hadi Mulyadi, Pemprov Kaltim telah membangun bendungan dan jaringan irigasi. Sekaligus sejumlah infrastruktur pertanian lainnya.
“Kita bangun bendungan dan irigasi untuk menyiapkan ketersediaan air di lahan-lahan pertanian, terutama di areal persawahan,” paparnya.
“Pertama, fokus membangun Bendungan Marangkayu di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), sebagai salah satu proyek strategis nasional,” sambungnya.
Fungsi Bendungan Marangkayu, menurut Fitra, untuk mengairi lahan irigasi seluas 1.500 hektare di Kecamatan Marangkayu.
“Sejak tahun 2019-2022 progres pembangunan Waduk Marangkayu sudah mencapai 90 persen. Ditargetkan tahun ini sudah akan dilakukan penggenangan waduk,” tuturnya.
Selain mengairi lahan pertanian, kata Fitra Waduk Marangkayu juga dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan air baku warga Bontang, Marangkayu dan Muara Badak.
“Dengan kapasitas direncanakan mencapai 450 liter/detik. Nilai APBD Kaltim yang sudah digelontorkan untuk pembangunan Waduk Marangkayu adalah Rp 13,1 miliar tahun 2019, kemudian Rp 3,4 miliar tahun 2021 dan Rp 4,9 miliar tahun 2022,” tukasnya.
Dalam keterangan tertulisnya, Gubernur Kaltim Isran Noor mengatakan, dengan bertambahnya pendatang dan lapangan usaha baru. Untuk itu, sambung Isran, kebutuhan pangan perlu disiapkan dengan meningkatkan produktivitas pertanian dan persawahan.
“Kaltim juga harus siapkan infrastruktur pertanian yang baik. Apalagi Kaltim sudah dipilih menjadi IKN,” ujar Isran.
Sebab, menurutnya saat ini, Kaltim belum bisa memenuhi kebutuhan sejumlah bahan pokok pangan, semisal beras, sayur, bumbu, dan lainnya. Pasokan pangan masih bertumpu pada Jawa dan Sulaswesi.
“Lebih dari 50 persen kebutuhan beras Kaltim, misalnya, berasal dari beberapa daerah di Sulawesi dan Jawa Timur,” ujarnya.
Dengan kondisi itu, harga kebutuhan pokok di sejumlah daerah di Kaltim tinggi lantaran rantai pasok yang panjang. Ini diperburuk seiring menurunnya hasil panen dan luasan sawah di Kaltim dalam beberapa tahun terakhir.
Mengacu data Badan Pusat Statistik, sawah irigasi dan nonirigasi di Kaltim pada 2012 seluas 68.120 hektar. Luasan tersebut menurun sekitar 4.000 hektar pada 2022 menjadi 64.030 hektare.(advertorial)