By admin
09.04.26

Kiamat Bahan Baku: Harga Plastik Tembus Rp 20,9 Juta Per Ton Imbas Konflik Selat Hormuz

Harga bahan baku plastik naik tajam 40 persen akibat konflik Timur Tengah. Simak dampak dan strategi pemerintah Indonesia di sini./Ilustrasi

MAHAKAMA – Dampak penutupan Selat Hormuz tidak hanya memicu kenaikan harga BBM, tetapi juga mendorong lonjakan harga plastik hingga 40 persen. Gangguan distribusi minyak mentah di jalur strategis membatasi pasokan global. Akibatnya, polipropilena sebagai turunan minyak ikut terdampak dan memicu kelangkaan bahan baku di pasar internasional.

Kondisi tersebut tercermin pada tren harga. Berdasarkan data Trading Economics, harga polipropilena naik dari Rp 14,7 juta per ton pada 2 Februari 2026 menjadi Rp 20,9 juta per ton pada 23 Maret 2026 seiring meningkatnya tensi konflik.

Tekanan ini kemudian merambat ke seluruh rantai produksi. Industri petrokimia hingga pelaku usaha kecil terdampak kenaikan biaya, yang pada akhirnya mendorong harga barang sehari-hari di tingkat konsumen.

Dampak Domino Kenaikan Bahan Baku Plastik Terhadap Sektor UMKM

Lonjakan harga bahan baku plastik memicu efek domino yang merugikan berbagai sektor industri penting di tanah air. 

Para pelaku usaha harus mengeluarkan biaya produksi yang jauh lebih besar karena plastik merupakan komponen utama kemasan. Margin keuntungan para pengusaha kini semakin tertekan sehingga mereka terpaksa melakukan penyesuaian harga jual produk di pasar. 

Namun demikian, daya beli masyarakat tidak selalu mampu mengikuti kenaikan harga barang yang terjadi secara tiba-tiba.

Kondisi ini menciptakan dilema besar bagi pelaku UMKM antara menjaga pelanggan atau tetap mempertahankan profitabilitas usaha mereka. Selain itu, keterbatasan pasokan bahan baku memaksa beberapa produsen untuk mengurangi volume produksi harian mereka secara signifikan. 

Sektor makanan dan minuman mengalami dampak paling nyata karena ketergantungan tinggi pada botol serta wadah plastik. Sektor farmasi dan otomotif juga turut merasakan tekanan yang sama pada biaya produksi alat kesehatan dan komponen kendaraan.

Strategi Pemerintah Mencari Alternatif Pemasok Global Baru

Merespons situasi darurat ini, pemerintah segera mengambil langkah strategis untuk mencari alternatif pemasok bahan baku dari negara lain. Dilansir Goodstat (8/4/2026),  Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan bahwa Indonesia mulai menjalin kerja sama dengan negara-negara di kawasan Afrika dan India. 

Selain itu, pemerintah juga menjajaki peluang pasokan dari Amerika untuk mengisi kekosongan stok yang biasanya berasal dari Asia Tengah. Upaya ini memang membutuhkan waktu karena perpindahan jalur logistik global tidak dapat terjadi secara instan.

Mendag Budi Santoso juga menjelaskan bahwa perwakilan Indonesia di luar negeri terus berkomunikasi secara intensif dengan para pemasok baru. Gangguan distribusi bahan baku plastik ini juga menimpa negara besar seperti China, Singapura, Korea Selatan dan Thailand. 

Beberapa produsen di negara-negara tersebut bahkan mengalami kondisi keadaan darurat yang memperburuk rantai pasok global saat ini. Meskipun demikian, pemerintah memastikan bahwa langkah pemenuhan bahan baku tetap berjalan agar aktivitas produksi dalam negeri kembali normal. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending