By admin
08.04.26

Hantui Usia 27 Tahun: Quarter Life Crisis Picu Lonjakan Depresi Global 18 Persen

Krisis usia 20-an atau quarter life crisis picu lonjakan depresi hingga 18 persen./Ilustrasi

MAHAKAMA – Di persimpangan jalan yang sunyi, ribuan mimpi perlahan layu tertikam bimbang dan riuhnya ekspektasi dunia yang tak pernah berhenti menuntut. Sang pengembara muda kini terengah-engah mengejar bayang-bayang kesuksesan yang tampak semakin menjauh di ufuk masa depan yang abu-abu.

Fase quarter life crisis umumnya dialami individu usia 18–30 tahun, ditandai rasa ragu terhadap karier dan hubungan pribadi. Data Gallup menunjukkan tren peningkatan depresi global, dari 10,5 persen pada 2015 menjadi 13,8 persen saat pandemi 2020. 

Data ini mengalami peningkatan pada 2025 mencapai 18,3 persen. Kenaikan ini menegaskan bahwa tekanan pada usia dewasa muda semakin nyata dalam satu dekade terakhir.

Faktor Pemicu dan Ciri Utama Krisis Usia 20-an

Peningkatan tersebut sejalan dengan tingginya tekanan hidup di usia produktif. Riset LinkedIn mencatat 75 persen individu usia 25–33 tahun pernah mengalami fase ini, dengan rata-rata usia terdampak 27 tahun. Pemicunya meliputi tekanan finansial, tuntutan karier, dan dorongan untuk mandiri, ditambah efek media sosial yang memicu perbandingan diri.

Gejalanya sering tidak disadari karena dianggap wajar. Individu cenderung bingung menentukan arah hidup, sulit mengambil keputusan besar, hingga merasa terjebak dalam pekerjaan yang tidak sesuai. Rasa iri terhadap pencapaian orang lain juga kerap muncul dan memperburuk kondisi emosional.

Dampak Psikologis dan Strategi Menghadapi Tekanan

Tekanan tersebut berdampak pada penurunan kepercayaan diri, kecemasan berlebih, hingga stres berkepanjangan dan rasa kesepian. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat mengganggu produktivitas dan keseharian. Karena itu, penting bagi individu untuk mengelola fase ini dengan pendekatan yang tepat.

Langkah awal adalah berhenti membandingkan diri dengan orang lain dan fokus pada progres pribadi. Mengembangkan keterampilan baru, mencari lingkungan suportif, serta menghargai proses menjadi kunci untuk keluar dari fase ini. Pada akhirnya, quarter life crisis dapat menjadi titik balik untuk memahami diri dan membangun ketahanan mental yang lebih kuat.

Kematangan emosional terbentuk dari kemampuan melewati ketidakpastian. Dengan kesehatan mental yang terjaga, generasi muda dapat berkontribusi lebih optimal bagi masa depan. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending