MAHAKAMA – Sora, model teks-ke-video dan gambar revolusioner dari OpenAI, sempat memikat perhatian dengan kemampuannya menghasilkan video realistis dari perintah singkat. Namun, teknologi yang dijuluki “pelukis AI” ini akhirnya harus menghentikan layanannya pada 26 April setelah memicu dampak yang tak lagi terkendali.
Sejak peluncurannya pada November 2024, Sora langsung menarik perhatian melalui sistem undangan eksklusif dan fitur yang memungkinkan pengguna membagikan wajah serta suara untuk membuat konten, termasuk rekayasa visual atau deepfake. Popularitas ini membuatnya cepat menyebar dan digunakan secara luas.
Namun, lonjakan penggunaan tersebut justru menjadi titik balik. OpenAI kemudian mengumumkan penutupan Sora hanya enam bulan setelah dirilis, menandai berakhirnya euforia teknologi ini.
Langkah tersebut mendapat respons positif dari peneliti forensik digital yang menilai Sora sebagai sumber konten bermasalah. Kemudahan akses dan daya tariknya dinilai mempercepat penyebaran disinformasi, termasuk dari wilayah konflik.
Kejatuhan Sora pun menjadi peringatan bagi industri kecerdasan buatan. Kasus ini memicu pertanyaan serius tentang batas pengembangan teknologi, terutama ketika inovasi melampaui kesiapan sistem pengawasan dan etika penggunaannya.
Alasan Utama Kegagalan Strategi Bisnis Sora OpenAI
OpenAI bertaruh besar pada integrasi AI dan media sosial melalui Sora, namun model bisnisnya tidak mampu menopang beban operasional sejak awal.
Seluruh biaya produksi video ditanggung perusahaan tanpa skema monetisasi yang jelas. Dilansir Techpolicy.press (31/3/2026), estimasi yang dikeluarkan Sora mencapai USD 15 juta atau sekitar Rp 250 miliar per hari.
Tekanan tersebut diperparah oleh menurunnya minat pengguna setelah fase viral awal. Banyak pengguna hanya mencoba sesaat lalu berhenti, sehingga tingkat keterikatan rendah dan ekosistem gagal berkembang menjadi kebutuhan rutin.
Di saat yang sama, lonjakan konten bermasalah semakin mempercepat krisis. Video palsu dan konten sensitif membanjiri platform sehingga memicu tekanan publik dan risiko hukum. Skala produksi yang masif membuat pengawasan internal tidak mampu mengendalikan penyalahgunaan teknologi.
Perbandingan Daya Tahan AI Gambar dan AI Video
Kegagalan tersebut semakin jelas jika dibandingkan dengan teknologi lain dalam industri yang sama. Generator gambar seperti Grok dan Midjourney tetap bertahan karena biaya produksinya jauh lebih rendah, berbeda dengan video AI yang membutuhkan komputasi tinggi untuk merender ribuan bingkai.
Perbedaan ini memengaruhi model bisnis dan penggunaan. Layanan gambar lebih mudah diadopsi dalam skema langganan karena dibutuhkan secara rutin, sementara video AI masih bersifat sesekali.
Selain itu, risiko regulasi pada video jauh lebih besar karena potensi manipulasi narasi, sedangkan konten gambar lebih mudah dikendalikan. Hal ini membuat platform seperti ChatGPT tetap mempertahankan fitur gambar.
Pada akhirnya, kegagalan Sora menegaskan bahwa inovasi teknologi tidak selalu sejalan dengan keberlanjutan bisnis. Biaya tinggi, rendahnya kebutuhan rutin dan risiko keamanan membuat video AI masih mencari keseimbangan, sekaligus membuktikan bahwa teknologi paling impresif belum tentu mampu bertahan di pasar. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin