By admin
10.01.26

Cicilan Rumah Kian Mahal, Tren Hidup di Campervan Jadi Pilihan yang Paling Masuk Akal

Kesenjangan gaji yang jauh di bawah harga pasar rumah memaksa warga Amerika Serikat beralih ke gaya hidup nomaden di dalam mobil van sebagai strategi bertahan hidup di tengah krisis properti./Ilustrasi

MAHAKAMA – Deretan mobil van yang terparkir di pinggir jalan kini bukan lagi sekadar kendaraan pengangkut barang. Bagi sebagian warga Amerika Serikat, kabin sempit tersebut telah berubah menjadi ruang tamu sekaligus tempat berteduh utama mereka setiap hari.

Meningkatnya harga properti setiap tahun membuat generasi muda semakin kesulitan mendapatkan hunian baru yang layak. Fenomena ini memaksa banyak orang di Amerika Serikat memilih tinggal di mobil van atau campervan.

Mereka memanfaatkan gaji untuk menikmati hidup tanpa harus terbebani cicilan rumah yang sangat besar. Berdasarkan data Move.org pada 2023, lebih dari separuh warga Amerika bermimpi untuk tinggal di dalam rumah mobil tersebut. Tingginya minat ini berbanding lurus dengan ketimpangan ekonomi yang semakin nyata dalam catatan data U.S. Census Bureau tentang kepemilikan hunian.

Ketimpangan Pendapatan dan Harga Rumah di Amerika Serikat

Kesenjangan antara jumlah penghasilan warga dan harga rumah di Amerika Serikat semakin melebar dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2018, warga masih bisa membeli rumah dengan gaji USD 60 ribu per tahun karena rata-rata penghasilan mereka mencapai USD 63 ribu. 

Situasi ini masih tergolong aman pada tahun 2019, di mana syarat gaji untuk membeli rumah adalah USD 65 ribu sementara warga mengantongi USD 67 ribu. 

Namun demikian, kondisi tersebut berbalik drastis sejak tahun 2022. Harga rumah melonjak hingga warga butuh gaji minimal USD 105 ribu untuk membelinya. Padahal, saat itu rata-rata penghasilan warga hanya USD 76 ribu per tahun. 

Tren sulit ini terus memburuk hingga tahun 2023, di mana warga perlu gaji USD 118 ribu namun kenyataannya mereka hanya punya USD 81 ribu. 

Pada tahun 2024, syarat gaji untuk mencicil rumah mencapai USD 119 ribu, sementara penghasilan warga hanya bertahan di angka USD 83 ribu.

Lonjakan kebutuhan pendapatan yang mencapai hampir dua kali lipat dalam kurun waktu lima tahun menunjukkan krisis kepemilikan hunian yang nyata. Masyarakat kini menghadapi kenyataan bahwa gaji bulanan mereka tidak lagi mampu mengejar kenaikan harga properti dan suku bunga pinjaman. Oleh karena itu, memilih tinggal di kendaraan menjadi strategi bertahan hidup yang paling masuk akal bagi kelompok ekonomi menengah ke bawah.

Keuntungan Finansial Tinggal di Dalam Mobil Van

Biaya hidup di dalam campervan jauh lebih murah dibandingkan menetap di sebuah rumah konvensional. Mereka yang memilih hidup bebas ini biasanya tidak memiliki rumah tetap karena harga pasar yang sudah tidak masuk akal. 

Penelitian Priceonomics menyebutkan bahwa membeli mobil camping bekas tahun 1980-an memiliki risiko kerugian nilai aset yang sangat rendah. Selain itu, pemilik tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk perbaikan rutin tergantung pada tingkat kerusakan kendaraan tersebut.

Keuntungan lainnya adalah pemilik campervan tidak perlu memikirkan cicilan Kredit Pemilikan Rumah atau KPR yang menguras kantong. Mereka juga terbebas dari kewajiban membayar Pajak Bumi dan Bangunan setiap tahunnya. Hal ini memberikan fleksibilitas finansial yang lebih besar bagi warga untuk mengalokasikan uang mereka pada kebutuhan pokok lainnya. 

Di samping itu, mobilitas tinggi menjadi daya tarik tambahan bagi mereka yang ingin terus bepergian tanpa terikat lokasi tertentu.

Mengapa Tren Campervan Belum Populer di Indonesia

Meskipun krisis properti juga terjadi di tanah air, tren tinggal di dalam mobil belum menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia. Masyarakat kita masih menganggap mobil sebagai barang mewah dengan biaya perawatan dan pajak tahunan yang cukup tinggi. 

Selain itu, ketersediaan kos-kosan murah masih sangat melimpah di berbagai kota besar di Indonesia. Meskipun fasilitas yang ditawarkan seadanya, hunian sewa tersebut tetap menjadi pilihan utama untuk berlindung dari cuaca ekstrem.

Kemudahan akses terhadap hunian sewa sementara membuat urgensi untuk tinggal di dalam kendaraan menjadi tidak terlalu mendesak. Infrastruktur pendukung seperti area parkir khusus dan fasilitas sanitasi publik di Indonesia juga belum memadai untuk mendukung gaya hidup ini. 

Namun, fenomena di Amerika Serikat menjadi pengingat bagi kita tentang pentingnya menjaga keterjangkauan harga hunian bagi generasi mendatang. Memiliki tempat tinggal adalah hak dasar yang harus tetap bisa dijangkau oleh semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending