MAHAKAMA — Bagi generasi kelahiran 1997 hingga 2012 atau Gen Z, akhir tahun bukan sekadar pergantian kalender, melainkan momentum krusial untuk melakukan self reward.
Fenomena menghadiahi diri sendiri ini kini telah bergeser dari sekadar gaya hidup menjadi sebuah kebutuhan untuk menjaga kesehatan mental di tengah tekanan produktivitas yang tinggi.
Berdasarkan survei Jakpat pada Februari 2025 terhadap 1.549 responden, sebanyak 88 persen Gen Z dan milenial menyadari pentingnya pengembangan diri.
Bahkan, 45 persen Gen Z menunjukkan ketertarikan aktif untuk mengikuti kursus guna meningkatkan kemampuan mereka.
Namun, pengembangan diri ini juga diimbangi dengan penghargaan diri. Survei dari perusahaan pemasaran e-commerce, Omnisend di Amerika Serikat pada November 2024 mencatat bahwa 60,4 persen Gen Z gemar membeli hadiah untuk diri sendiri selama musim liburan.
Di Indonesia, tren ini dikenal luas sebagai self reward—sebuah bentuk apresiasi atas pencapaian, pemacu motivasi, sekaligus sarana relaksasi untuk mengurangi stres.
Mengapa Self Reward Itu Penting?
Aktivitas ini bukan tanpa alasan medis. Psikolog Janine M. Dutcher dalam risetnya “Brain Reward Circuits Promote Stress Resilience and Health” (2020) mengungkapkan bahwa stimulus penghargaan diri memberikan dampak penguatan positif bagi kesehatan otak.
“Brain Reward Circuits Promote Stress Resilience and Health: Implications for Reward-Based Interventions,” tulis Dutcher dalam laporannya.
Hal ini menunjukkan, stimulus penghargaan diri memberikan dampak penguatan positif bagi kesehatan otak.
Intervensi dengan memberikan penghargaan diri dapat mengurangi stres dan menambah motivasi, yang bermanfat untuk kesehatan mental seseorang
Hal ini juga tecermin dalam temuan Unicef Perception of Youth Mental Health Report 2025.
Riset ini dilakukan terhadap 5.567 responden Gen Z usia 14-25 tahun di tujuh negara, yakni Amerika Serikat, Swiss, Jepang, Meksiko, Malaysia, Inggris, dan Afrika Selatan.
Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok muda ini menghadapi tekanan besar dari lingkungan pendidikan sebesar 39 persen dan pekerjaan sebesar 43 persen.
Hebatnya, 55 persen dari mereka secara aktif melakukan aktivitas pengelolaan stres untuk menjaga keseimbangan emosional.
Ragam Pilihan Self Reward di Penghujung 2025
Survei RedDoorz (2025) memotret bahwa 84 persen wisatawan berencana libur akhir tahun, dengan 86,6 persen di antaranya memilih destinasi domestik.
Hasil survei GoodStats dalam laporan “Kota Pilihan Masyarakat Indonesia 2024” merekam bahwa ada sejumlah kota yang menjadi tujuan berlibur masyarakat, di antaranya Yogyakarta (71,2 persen), Denpasar (70,4 persen), Bandung (52,4 persen), Bogor (34,1 persen), dan Malang (20,5 persen).

Tak melulu soal jalan-jalan, riset Jing An dkk. (2024) yang dipublikasikan di PubMed Central menyebutkan bahwa bertemu keluarga memiliki dampak signifikan dalam menjaga kesehatan mental. Berkumpul dengan orang tercinta menjadi “amunisi” motivasi untuk menyongsong tahun 2026.
Selain itu, bagi mereka yang tidak menyukai keramaian, self reward diwujudkan melalui aktivitas mandiri seperti staycation atau camping, mendengarkan musik secara reflektif, maraton film atau drama, serta membaca buku dari daftar wishlist yang sudah disusun sepanjang tahun.
Pilihan-pilihan tersebut menjadi kegiatan self reward bagi gen Z untuk menutup akhir tahun.
Melihat jenis pilihannya, kegiatan-kegiatan tersebut menjadi bagian dari temuan survei Unicef tentang bagaimana gen Z mengelola stres dan menyeimbangkan kehidupan akibat tekanan mental.
Pada akhirnya, self reward adalah bentuk apresiasi terhadap diri sendiri yang telah berjuang melewati tantangan selama setahun penuh.
Hadiah-hadiah kecil, baik berupa barang impian maupun pengalaman perjalanan, diharapkan menjadi booster semangat bagi Gen Z untuk mewujudkan impian dan resolusi baru di tahun 2026. (*)
Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin