MAHAKAMA — Pada usia 26 tahun, Soe Hok Gie memilih tempat menghembuskan napas terakhir sesuai dengan idealismenya: Puncak Mahameru, jauh di atas gema janji-janji palsu pemerintah.
Pertanyaan abadi tentang Gie bukanlah mengapa ia meninggal, tetapi mengapa ia yang telah berhenti bernapas justru terasa lebih hidup daripada kita yang masih menghirup udara.
Jawabannya terbentang dari gerbang Universitas Indonesia hingga kawah Semeru.
Pena di Depan Api yang Membara
Di awal usia 20-an, Gie berdiri di depan gerbang Universitas Indonesia. Ia menatap Jakarta yang terbakar oleh pergolakan politik dan transisi kekuasaan.
Di tangan Gie, bukan bom molotov yang ia pegang, melainkan pena. Di kepalanya, bukan topi pembom, melainkan mimpi tentang keadilan yang sederhana, lugas, dan tak terkompromikan.
Gie adalah intelektual yang gelisah. Ia tahu betul pertempuran melawan kekuasaan dan kemunafikan akan sulit, bahkan ia tahu ia akan kalah. Namun, bagi Gie, berdiam diri adalah kekalahan yang lebih keji.
Ia bukan memproklamirkan diri sebagai pahlawan, melainkan hanya anak muda yang tidak bisa tidur karena mendengar tangis kelaparan di luar jendela kampusnya—sebuah pengakuan tulus atas penderitaan sesama yang menolak untuk ditenangkan.
Ketika kawan-kawan seperjuangannya di gerakan mahasiswa 1966 mulai masuk istana dan menikmati madu kekuasaan, Gie melakukan perlawanan paling sunyi: ia memilih bukit.
Ketika mereka sibuk menyusun undang-undang dan membangun imperium baru, Gie menulis sebuah kritik pedas yang menusuk: “Aku mengirim bedak dan lipstik untuk teman-temanku di parlemen, agar mereka bisa tampil cantik menjalankan wayang kekuasaan,” tulis Gie.
Gie menolak kompromi, menolak diikat oleh jabatan, menolak merelakan kejujurannya. Ia memilih kebebasan yang brutal di alam terbuka.
Sesak Napas di Ketinggian 3.676 Meter

Di ketinggian 3.676 meter, di tengah keheningan Gunung Semeru, Gie menulis surat terakhirnya: “Aku mencintai alam karena ia tidak pernah berbohong.”
Saat ia menghirup gas beracun dari Kawah Semeru, Gie tidak sedang melakukan bunuh diri.
Dalam napas terakhirnya, ia merasakan apa yang dirasakan oleh rakyat kecil yang ia perjuangkan: sesak napas, perih di dada, mati perlahan karena kesenjangan dan ketidakadilan yang mencekik.
Di puncak kebenaran alam, Gie mengerti bahwa perjuangan bukan tentang menang, tetapi tentang tetap menjadi manusia di tengah kemenangan yang korup.
Ia meninggal sehari sebelum ulang tahunnya, bukan di tengah kerusuhan politik, tetapi di tengah keheningan gunung. Ia tidak tumbang oleh peluru musuh, tetapi oleh napas yang terlalu tulus untuk dunia yang keji.
Kita yang Masih Bernapas

Hari ini, tepat 54 tahun setelah kepergiannya, kita masih membaca Catatan Seorang Demonstran sambil duduk di kafe dan menyeruput kopi. Kita memposting kutipan-kutipan heroiknya di media sosial, mengagumi keberaniannya, lalu pulang ke rumah, namun tetap diam melihat ketidakadilan di depan mata.
Inilah alasan mengapa Soe Hok Gie, yang telah tiada, terasa begitu hidup: ia telah menyelesaikan pertempurannya dengan integritas utuh.
Ia memilih mati daripada hidup sebagai munafik. Sementara kita, dengan napas yang masih mengalir, sering kali memilih untuk mati secara moral—tunduk pada kepengecutan, kebisuan, dan kompromi yang lambat laun menggerogoti esensi kemanusiaan kita.
Gie adalah pengingat abadi: Hidup bukan diukur dari berapa lama paru-paru kita berfungsi, tetapi seberapa besar keberanian kita untuk menggunakan suara itu. (*)
Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin