By admin
19.12.25

Melepas Dahaga di Tengah Bencana: Relawan Kaltim Hadirkan Air Bersih Hasil Filterisasi untuk Korban Banjir di Aceh Tamiang

Tim relawan dari Kaltim menyediakan filterisasi air untuk warga yang terdampak banjir di Aceh Tamiang (Tangkapan Layar/@andrekhg)

MAHAKAMA — Sebuah unggahan video berdurasi 1 menit 15 detik di akun Instagram @andrekhg baru-baru ini menyita perhatian publik.

Di tengah riuh rendah informasi di media sosial, video tersebut menyajikan realitas sunyi namun menohok dari lokasi bencana banjir bandang yang melanda wilayah Sumatera.

Dalam video tersebut, terekam seorang pria paruh baya mengenakan kaos kuning bergaris. Ia terlihat meneguk air hasil filterisasi yang disediakan oleh relawan. Meski air itu belum sepenuhnya steril, ia tetap meminumnya.

Sambil tersenyum tipis, kalimat yang meluncur dari mulutnya terdengar ringan namun menyayat hati.

“Gak papa, Bang. Saya dua hari minum air banjir,” ujarnya.

Kalimat sederhana itu menjadi tamparan keras mengenai kondisi di lapangan. Di saat air bersih adalah kebutuhan dasar, bagi para korban banjir di Sumatra, air layak minum telah menjadi sebuah kemewahan yang sulit dijangkau.

Hingga pekan ketiga pasca-banjir bandang yang menerjang pada 25 November 2025, distribusi bantuan masih menjadi sorotan tajam.

Kendati pemerintah pusat menyatakan optimisme mampu menangani pemulihan tanpa bantuan asing — ataukah mungkin terlalu gengsi, namun fakta di lapangan menunjukkan akses terhadap makanan dan air bersih masih menjadi kendala krusial.

Merespons situasi ini, relawan Kalimantan Timur (Kaltim) mengambil langkah konkret. Tim yang beranggotakan empat orang asal Kaltim dan tiga orang asal Medan ini terjun langsung ke titik krisis di Aceh Tamiang. Mereka merupakan tim yang dipersiapkan oleh Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud.

Bukan sekadar mengirim logistik, tim ini membawa solusi teknis berupa mesin alkon, pipa, alat filterisasi, dan tandon air. Mereka bekerja membenahi sumber air yang tercemar, mengubah air keruh sisa banjir menjadi jernih dan layak konsumsi.

Pengiriman relawan non ASN difokuskan untuk membantu Aceh Tamiang yang masih mengalami kesulitan air bersih pasca banjir bandang. Mereka fokus membenahi sumber air yang tercemar dan tidak bisa digunakan pasca banjir bandang terjadi dengan cara filterisasi.

Sebelumnya, Pemprov Kaltim juga tercatat telah menyalurkan sumbangan resmi senilai Rp7,5 miliar untuk membantu penanganan korban bencana ini.

Berdasarkan catatan WALHI, bencana ini disebabkan oleh kerentanan ekologis yang terus meningkat akibat perubahan bentang ekosistem penting seperti hutan, dan diperparah oleh krisis iklim.

Pada periode 2016 hingga 2025, seluas 1,4 juta hektar hutan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang telah terdeforestasi akibat aktivitas 631 perusahaan pemegang izin tambang, HGU sawit, PBPH, geotermal, izin PLTA dan PLTM.

Peristiwa siklon tropis yang melanda Sumatera tidak dapat dilepaskan dari hilangnya sekitar 1,4 juta hektare hutan tropis yang dialihfungsikan menjadi kawasan pertambangan maupun perkebunan sawit.

Perubahan tutupan lahan ini mengakibatkan rusaknya fungsi hidrologis hutan, sehingga kemampuan tanah dalam menyerap air menurun drastis dan memicu aliran permukaan yang bersifat destruktif.

Tumpukan kayu gelondongan yang hanyut dari hulu sungai saat banjir bandang dan longsor melanda Aceh Tamiang/Kompas.com

Dampak bencana ini sangat besar. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan, hingga Jumat (19/12/2025) pukul 10.50 WIB, bencana ini telah mengakibatkan 1.068 orang meninggal, 190 orang hilang, dan sekitar 7 ribu orang terluka.

Sebanyak 3,3 juta jiwa terdampak, kehilangan tempat tinggal, harta benda, serta pola hidup sehari-hari. Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai Rp68,8 triliun, dengan 3.500 bangunan rusak berat, 271 akses jembatan hancur, dan 967 fasilitas pendidikan mengalami kerusakan.

Skala fatalitas ini menjadikan banjir Sumatera 2025 sebagai bencana alam paling mematikan di Indonesia sejak Gempa Bumi dan Tsunami Sulawesi 2018 silam.

Namun, di tengah carut-marut penanganan dan perdebatan mengenai efektivitas distribusi bantuan, kehadiran Relawan Kaltim dengan teknologi penjernih airnya menjadi harapan.

Segelas air bersih yang disuguhkan kepada korban bukan hanya sekadar pelepas dahaga, melainkan simbol hadirnya kemanusiaan dan solidaritas sesama anak bangsa.

Video viral di @andrekhg tersebut menjadi pengingat bahwa di balik angka statistik ribuan korban, ada cerita manusia yang bertahan hidup dengan segala keterbatasan, dan ada tangan-tangan relawan yang bekerja dalam senyap untuk membasuh duka mereka. (*)

Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin

Trending