MAHAKAMA — Perantauan seringkali terasa seperti medan pertempuran: penuh jatuh bangun, harapan yang patah, dan penolakan yang menyakitkan.
Bagi anak-anak yang jauh dari rumah, di saat merasa “kalah” atau gagal, tidak ada yang lebih menenangkan selain suara ibu.
Penggalan lirik lagu legendaris Iwan Fals, “Ingin kudekap dan menangis di pangkuanmu. Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu,” bukan sekadar melodi, melainkan deskripsi jujur akan kerinduan dan kebutuhan emosional saat hidup di tanah rantau seolah bertubi-tubi memberi rasa sakit.
Ketenangan di Ujung Sambungan Telepon
Cerita datang dari Mega (23), seorang fresh graduate yang sudah merantau selama 5 tahun dan saat ini menjadi jurnalis di Samarinda.
Mega baru saja menghadapi konflik hebat dengan rekan kerjanya. Hari-hari di kantor terasa mencekik.
“Aku sempat kepikiran buat berhenti saja dan pulang kampung. Capek banget rasanya berhadapan dengan orang-orang yang bikin hati sakit,” ujar Mega.
Di tengah dilema itu, ia teringat pada panggilan video rutin dengan ibunya setiap malam.
“Sabar, Nak. Kalau ada masalah, cerita ke Ibu ya. Ibu selalu doakan kamu” tutur suara ibu Mega dari seberang sambungan telepon.
Lain lagi dengan Tri (21), sebagai mahasiswa akhir di Samarinda, Tri sedang berjuang dengan revisi skripsi yang tak kunjung disetujui, ditambah lagi uang kirimannya berkurang karena pendapatan orang tuanya di kampung tidak menentu.
“Tugas numpuk, uang mepet. Aku cuma bisa makan mi instan berkali-kali,” kata Tri.
Tri bercerita ia menelepon mamak—panggilan Tri ke Ibunya, untuk menanyakan kabar.
“Mamak bilang, ‘Jangan lupa salat dan jangan lupa makan. Jangan sampai sakit. Kalau kamu sakit, Mamak nanti bingung di sini, tidak bisa ngurus kamu’ Dengar itu, air mataku langsung jatuh, tapi aku punya alasan bertahan,” tutur Tri.
Tri mengakui, meskipun ibunya jauh, suara itu menjadi energi tambahan baginya.
Suara Ibu Dapat Meningkatkan Hormon Cinta
Ketenangan yang dirasakan Mega, Tri, dan anak rantau lainnya rupanya bukanlah sekadar efek psikologis biasa.
Melansir laman WISC, sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti pasca-doktoral, Leslie Seltzer dan tim dari University of Wisconsin–Madison pada tahun 2012 menguatkan fenomena ini.
Hasil studi tersebut menyebut, mendengarkan suara ibu—bahkan melalui telepon, secara alami dapat meningkatkan kadar oksitosin dalam tubuh.
Oksitosin, sering dijuluki ‘hormon cinta’, memiliki peran penting dalam menenangkan saraf dan secara signifikan mengurangi kadar kecemasan atau hormon kortisol yang menyebabkan stres.
Dalam studi tersebut mengungkapkan bahwa suara ibu dapat menenangkan saraf yang tegang dengan memicu pelepasan hormon penghilang stres yang kuat. Dampaknya setara dengan pelukan langsung.
Suara ibu di telepon bukan sekadar komunikasi, melainkan pelukan digital yang bekerja secara ilmiah.
Di tengah kepedihan dan kegagalan di perantauan, suara ibu memicu pelepasan hormon oksitosin yang berfungsi sebagai penenang alami, meredakan kecemasan, dan memberikan kekuatan emosional yang setara dengan kehadiran fisik.
Bagi anak perantauan, sambungan telepon dari ibu adalah garis pertahanan terakhir dan sumber energi tak terbatas untuk terus berjuang. (*)
Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin