MAHAKAMA — Pendidikan tinggi seringkali dianggap sebagai kunci menuju masa depan yang lebih cerah.
Namun, bagi beberapa mahasiswa di Samarinda, perjalanan menuju kelulusan penuh dengan perjuangan ganda: mengejar nilai di kampus sambil mengejar rupiah untuk membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan biaya hidup.
Mereka adalah wajah dari ketangguhan, membagi waktu antara bangku kuliah dan tuntutan pekerjaan yang menguras tenaga.
Di tengah hiruk pikuk Universitas Mulawarman (Unmul), Farhan Akmal, mahasiswa semester tujuh, duduk di gazebo dengan tatapan menerawang. Kurang dari sebulan lagi, tagihan UKT untuk semester berikutnya akan jatuh tempo.
“Menurut saya, sesuatu yang tidak diperjuangkan ya tidak bisa dimenangkan. Jadi, coba dulu,” kata Farhan, merujuk perkara biaya hidup dan kuliah yang belum menentu didapatkannya.
Sejak lima bulan lalu, Farhan bekerja sebagai barista di sebuah kafe. Beban di pundaknya terasa lebih berat sejak sang ayah meninggal dunia. Kini, ia menjadi tulang punggung bagi dirinya sendiri, berpacu dengan waktu untuk mengumpulkan biaya kuliah dan menanggung biaya hidup sehari-hari.
Gaji dari kafe seringkali hanya cukup untuk makan dan sewa kos, menyisakan kekhawatiran besar menjelang pembayaran UKT yang rata-rata di Unmul berkisar antara Rp500.000 hingga di atas Rp4.000.000 per semester tergantung golongan dan program studi. Ia belum tahu, apakah usahanya selama ini akan cukup, atau ia harus kembali rehat menjadi mahasiswa.
Kisah serupa datang dari Retno Handayani, mahasiswi semester lima di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Samarinda.
Retno menyadari betul kondisi ekonomi keluarganya. Dengan adik-adik yang masih kecil dan biaya pendidikan yang terus membayangi, ia memutuskan bekerja sebagai admin toko.
“Meskipun orang tua tidak pernah menuntut, saya tahu beban mereka berat,” ujar Retno.
Ia menghabiskan pagi hingga sore hari di depan komputer toko, mengurus pembukuan dan stok barang, sementara malam hari diisi dengan kuliah. Kelelahan fisik dan mental menjadi teman akrab. Namun, melihat orang tuanya sedikit terbebani, ia merasa usahanya berharga.
Sementara itu, di sudut jalanan Samarinda, Fahri Maulana, mahasiswa semester lima Unmul, berkelit di antara kemacetan. Jaket hijaunya adalah penanda pekerjaannya sebagai driver ojek online.

Selain untuk UKT, Fahri harus memastikan cicilan motornya terbayar tepat waktu. Motor itu dikredit saat ia baru masuk kuliah, alat transportasi utama yang kini juga menjadi modal kerjanya.
“Setiap hari itu ada target, untuk bayar UKT, biaya hidup, sama cicilan motor. Pulang ke kos badan sudah pegal semua, tapi besok harus bangun pagi untuk kuliah,” kata Fahri, sambil sesekali menerima pesanan dari aplikasi.
Farhan, Retno, dan Fahri hanyalah segelintir potret dari ribuan mahasiswa pekerja keras di Kalimantan Timur. Mereka berjuang bukan hanya untuk mendapatkan gelar, tetapi juga untuk bertahan hidup dan meringankan beban keluarga.
Kisah mereka adalah pengingat bahwa pendidikan di Indonesia masih menyisakan tantangan besar, di mana semangat pantang menyerah menjadi satu-satunya modal untuk menaklukkan tingginya biaya perkuliahan. (*)
Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin