By admin
05.12.25

Anak Muda Tidak Lemah, Masa Depan yang Tak Terlalu Ramah

MAHAKAMA — Hendra (27) sudah lama berhenti berandai-andai soal punya rumah. Bukan karena tak mau, tapi beberapa tahun belakangan ini, ia sadar betul cita-cita itu rasanya cuma nambah beban pikiran. Hampir mustahil.

Anak muda yang kerja di salah satu perusahaan swasta di Samarinda ini, harus tegar menghadapi kenyataan di kamar kosnya yang sempit. Harga-harga kebutuhan pokok terus melonjak, sementara gajinya jalan di tempat. Jangan tanya soal tabungan, sudah pasti tidak bertambah.

“Aku cuma pengen ngejar mimpi, itu aja,” katanya singkat, saat dihubungi Mahakama pada Kamis (4/12/2025) pagi.

Mimpi yang dia maksud adalah cita-cita klasik: punya rumah sebelum usia 35. Dulu, itu terasa masuk akal. Sekarang, Hendra menyebutnya sebagai “warisan optimisme” dari generasi di atasnya—sebuah narasi yang sudah basi dan tidak relevan dengan realitas hidup hari ini.

Obrolan di Warung Kopi Jadi Kecemasan Kolektif

Keresahan Hendra ini bukan cuma miliknya. Ini adalah obrolan wajib yang mengendap di mana-mana: dari warung kopi, bisikan sepulang kantor, sampai kolom komentar di media sosial.

Coba lihat X (dulu Twitter) dan TikTok. Para pekerja, terutama di industri kreatif dan sektor informal, ramai-ramai mengaku sudah tidak menabung. Bagi mereka, bisa bertahan tanpa kena PHK saja sudah harus disyukuri.

Curhat anak muda terkait biaya hidup yang semakin mahal/Tangkapan Layar TikTok

Frasa-frasa seperti late capitalism, adulting is a scam, atau keluhan “hidup kok mahal banget” berseliweran seperti pengakuan kolektif — masa depan yang cerah itu rasanya menjauh lebih cepat daripada upaya mereka mengejarnya.

Secara ilmiah, kondisi ini disebut economic anxiety (kecemasan ekonomi), lahir dari rasa tidak stabilnya penghasilan dan hilangnya kontrol atas masa depan. Bagi anak muda, rasa cemas ini berubah jadi financial insecurity—perasaan bahwa sekeras apapun bekerja, keadaannya tetap tidak aman untuk rencana jangka panjang.

Bahkan, ada istilah psikologis yang lebih dalam: sense of foreshortened future. Ini adalah persepsi bahwa masa depan itu terasa pendek, samar, atau bahkan seperti sesuatu yang tidak akan pernah benar-benar bisa mereka genggam.

Media sosial justru jadi corong yang memperkuat ekspresi kecemasan ini. TikTok penuh dengan konten curhatan, meme satir “gajian cuma bertahan seminggu”, lelucon gelap tentang utang, sampai cuitan yang mengaku takut masa depan.

Ini bukan sekadar “kicauan”, tapi sudah jadi semacam pengakuan bahwa banyak anak muda merasakan tekanan yang sama.

Sialnya, perasaan pesimistis ini sering diremehkan oleh generasi yang lebih tua sebagai keluhan “anak manja”. Padahal, sejarah sudah mencatat polanya: setiap gejolak ekonomi selalu melahirkan satu generasi yang tumbuh dengan kecemasan serupa.

Kita pernah mengalaminya di Indonesia pada 1997-1998, Jepang pada 1990-an, dan sang Adidaya, Amerika Serikat, pada 2008. Semuanya merasakan hidup di dunia yang tak lagi bisa menjanjikan stabilitas. Hari ini, kecemasan itu hadir dalam bentuk yang berbeda.

Bukan Manja, tapi Badai yang Bertubi-tubi

Sejarah mencatat, krisis tahun 1998 meninggalkan jejak trauma kolektif. Orang kehilangan pekerjaan, perbankan kolaps, dan mahasiswa angkatan itu bertemu dunia kerja yang hancur.

Pola yang sama terulang di Amerika pasca-Krisis Finansial Global 2008. Mereka yang tumbuh di masa itu lebih pesimistis, lebih berhati-hati, dan percaya bahwa kerja keras tidak otomatis menjamin hasil.

Namun, krisis hari ini jauh lebih rumit, bahkan bagi para ahli. Di masa lalu, krisis cenderung datang satu per satu dan punya batas waktu: resesi 2-4 tahun, lalu pulih. Hari ini anak muda menghadapi krisis yang tumpang tindih. Harga rumah tak pernah wajar, biaya hidup terus meroket, dan pasar kerja cepat berubah. Selain itu, Media sosial menciptakan ilusi frekuensi tekanan digital yang membuat kita merasa krisis ada di mana-mana, setiap saat.

Ini diperparah dengan perbandingan sosial yang brutal. Mahasiswa di Jogja kini bisa membandingkan diri dengan influencer di Jakarta atau anak 24 tahun di Singapura. Hasilnya bukan motivasi, melainkan rasa kekurangan kronis.

Pola serupa terjadi hampir bersamaan di belahan dunia lain. Krisis Finansial Global 2008 membuat jutaan anak muda di Amerika dan Eropa tumbuh sebagai apa yang disebut “The Great Recession Kids.” Mereka menyaksikan orang tua kehilangan rumah, perusahaan bangkrut, dan biaya pendidikan melonjak. 

Survei-survei menunjukkan generasi ini memiliki karakteristik psikologis yang lebih pesimistis terhadap masa depan, lebih berhati-hati mengambil risiko, dan lebih percaya bahwa kerja keras tidak menjamin hasil. Dalam banyak kesaksian, mereka mengaku hidup dengan “bayangan pesimisme” yang membentuk cara mereka melihat dunia hingga sekarang.

Koichi Hamada, Anil K. Kashyap, dan David E. Weinstein dalam buku Japan’s Bubble, Deflation, and Long-term Stagnation (2011) menunjukkan bagaimana krisis Jepang 1990-an tidak hanya merusak tatanan ekonomi, tetapi juga memukul kepercayaan diri generasi mudanya.

Dalam analisis Hamada dkk, inilah titik ketika generasi muda Jepang mulai kehilangan “rasa kemapanan masa depan”. Dalam buku itu juga menunjukkan bagaimana stagnasi panjang melahirkan pola psikologis baru, yaitu anak muda menjadi lebih enggan mengambil risiko, lebih pesimistis terhadap mobilitas sosial, dan merasa hidup dalam sistem yang tidak memberi ruang untuk naik kelas. 

Hamada menyebut fenomena ini sebagai bagian dari “luka jangka panjang” stagnasi, yakni dampak yang tidak hilang meski ekonomi mulai pulih. Generasi yang tumbuh pada masa itu membawa kecemasan tadi sampai dewasa.

Alhasil, mereka memiliki keraguan untuk membentuk keluarga, enggan berinvestasi, dan ketakutan bahwa kerja keras tak lagi menjamin apa pun. Ini menjadikan Jepang salah satu contoh paling jelas tentang bagaimana krisis ekonomi dapat berubah menjadi krisis psikologis generasional.

Banyak studi psikologi mencatat bagaimana trauma kolektif itu bertahan hingga usia tua. Sejarawan David M. Kennedy, dalam bukunya Freedom from Fear: The American People in Depression and War, 1929–1945 (1999) menggambarkan bagaimana krisis ini membentuk bukan hanya ekonomi, tapi juga mentalitas dan budaya Amerika selama puluhan tahun.

Dalam buku itu, Kennedy menunjukkan bahwa Depresi Besar bukan hanya peristiwa runtuhnya ekonomi Amerika, tetapi sebuah guncangan psikologis kolektif yang membentuk cara hidup satu generasi penuh. Ia menggambarkan bagaimana jutaan keluarga yang kehilangan tabungan, pekerjaan, bahkan rumah, kemudian mengembangkan pola pikir baru yang lebih berhati-hati, hemat ekstrem, dan sangat waspada terhadap risiko. 

“Generasi yang tumbuh pada masa itu membawa ‘budaya kecukupan’ (culture of scarcity) hingga puluhan tahun kemudian. Terlihat dari sikap mereka terhadap konsumsi, keputusan finansial, hingga kehati-hatian dalam mengambil peluang profesional,” tulisnya.

Kennedy menunjukkan bahwa trauma kehilangan stabilitas ekonomi menciptakan mentalitas yang bertahan jauh lebih lama daripada krisis itu sendiri. Yakni kecemasan akan jatuh miskin, ketidakpercayaan terhadap institusi finansial, dan keyakinan mendalam bahwa masa depan selalu bisa runtuh tanpa peringatan. 
Bagi Kennedy, Depresi Besar adalah “contoh klasik bagaimana krisis ekonomi bisa menjelma menjadi krisis psikologis generasional yang membentuk budaya selama satu abad.”

Dari contoh historis itu, tampak jelas bahwa setiap krisis besar selalu menorehkan pola yang mirip: periode stagnasi memicu runtuhnya kepercayaan, lalu berkembang menjadi pesimisme kolektif yang pada akhirnya mengubah budaya sebuah generasi.

Jika generasi yang lebih tua melihat krisis sebagai “siklus ekonomi yang datang dan pergi”, generasi muda justru merasakannya di level yang jauh lebih dalam: psikologis.

Jadi, ketika Hendra dan jutaan anak muda lain mengeluh, itu bukan tanda kelemahan, melainkan respons yang wajar terhadap dunia yang terasa tidak bisa lagi diandalkan. Mereka sedang berjuang di tengah badai yang datang dari banyak arah. (*)

Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin

Trending