By admin
29.11.25

POV Orang yang Pernah Kehilangan Tumbler: Antara Zero Waste, Gaya Hidup Kalcer, dan Kelalaian Diri

Ilustrasi seorang wanita memegang tumbler Tuku/AI

MAHAKAMA – Kasus hilangnya tumbler milik seorang penumpang KRL bernama Anita Dewi belakangan ini menyita perhatian publik.

Insiden ini berawal dari kelalaian Anita yang meninggalkan cooler bag berisi tumbler bermerek Tuku di bagasi kereta, yang kemudian memicu polemik luas di media sosial, bahkan menyeret nasib petugas KAI.

Kejadian ini tidak hanya menyoroti prosedur penemuan barang hilang, namun juga membuka kembali diskusi tentang betapa pentingnya benda kecil bernama tumbler di era sekarang.

Bagi sebagian orang, membawa tumbler adalah manifestasi dari kesadaran zero waste untuk mengurangi sampah plastik.

Namun, tak bisa dimungkiri, seiring berjalannya waktu, tumbler telah bertransformasi menjadi bagian dari “gaya hidup kalcer”, terutama bagi Generasi Z.

Tumbler bukan semata karena fungsi utamanya sebagai wadah minuman. Membawa si botol minum stainless itu menjadi semacam modus eksistensi: “Aku juga kalcer, loh,” “Aku punya dari merek populer, loh,” dan lain-lain.

Makanya banyak orang yang tidak mau sekadar beli tumbler murahan. Tapi harus yang bermerek populer. Sebut saja Stanley, LocknLock, Hydro Flask, Eiger, dan lain-lain.

Rasanya tak afdal jika bepergian tanpa tumbler berdesain estetik atau dari merek populer.

Namun, di tengah polemik Anita Dewi yang menuntut pertanggungjawaban, muncul sudut pandang dari mereka yang juga pernah mengalami nasib serupa: kehilangan tumbler.

Anita tentu saja bukan satu-satunya orang yang pernah kehilangan tumbler mahal atau kesayangan. Beberapa orang pernah mengalami, bahkan sejak di sekolah dulu mungkin pernah kehilangan botol Tupperware dan berakhir menerima omelan ibu.

Bagi mereka, meskipun menyakitkan, hilangnya benda ini tak lain dan tak bukan adalah cerminan dari kelalaian diri sendiri.

Pengakuan Mereka yang Pernah Kehilangan Tumbler

Salah satu yang pernah mengalami adalah Rina (27), seorang karyawan swasta di Penajam Paser Utara. Ia mengaku pernah kehilangan tumbler stainless steel-nya saat terburu-buru turun dari bus.

“Awalnya kesal sekali, belinya lumayan mahal hampir Rp300 ribu. Tapi, mau marah ke siapa? Aku yang teledor, buru-buru sampai lupa cek bawaan,” ujar Rina.

Rina berandai-andai penuh harap, kantornya memberi hadiah tumbler estetik kepada karyawan.

“Ujung-ujungnya juga nyisihin uang lagi buat beli tumbler baru hahaha,” katanya.

Senada dengan Rina, Bima (24), seorang mahasiswa di Samarinda yang sempat kehilangan tumbler saat nongkrong di kafe, mengakui adanya nyesek yang mendalam.

“Iya, niat awal beli karena mau zero waste, biar keren juga. Pas hilang rasanya nyesek, apalagi tumblernya mahal. Tapi ya sudahlah, harus terima, karena saya yang lupa,” ucap Bima.

Kehilangan ini membuat Bima sadar, tumbler bukan cuma soal gaya atau zero waste, tapi juga soal disiplin diri.

“Percuma, kalo hype dan mahal tapi nggak dijaga, ya ujung-ujungnya cuma jadi sampah (hilang) juga,” tutur Bima.

Tanggung Jawab dan Culture Membawa Tumbler

Fenomena ini menunjukkan dilema tersendiri. Di satu sisi, tumbler menjadi simbol komitmen lingkungan dan gaya hidup modern. Di sisi lain, hype dan nilai ekonominya yang kini tinggi, terutama merek-merek tertentu, membuat kehilangannya terasa jauh lebih berat, hingga memicu reaksi emosional yang berlebihan.

Kasus Anita Dewi menjadi pengingat bagi setiap pengguna tumbler, bahwa kelalaian sekecil apa pun dapat berujung pada konsekuensi besar. Di tengah kemudahan fasilitas dan pelayanan, tanggung jawab utama atas barang bawaan tetap berada di tangan pemilik.

Tumbler memang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari culture anak muda. Namun, seperti kata mereka yang pernah kehilangan, “Kesadaran terbesar bukanlah saat membeli, melainkan saat kita harus berdamai dengan kenyataan bahwa barang itu hilang karena kecerobohan kita sendiri”. (*)

Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin

Trending