By admin
30.04.26

Sarat Merkuri dan Timbal, Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu Sama Saja Menelan Racun Limbah

Kemampuan ikan sapu-sapu bertahan di perairan tercemar menjadi titik awal munculnya risiko kesehatan. Ikan ini hidup dengan mengonsumsi limbah organik dari lingkungan kotor./Detik.com-Muhammad Reevanza

MAHAKAMA – Kilauan sisik hitam yang memenuhi permukaan air sungai Jakarta kini bukan lagi sekadar pemandangan biasa. Ratusan ikan dengan punggung keras terlihat berjejalan di antara tumpukan sampah plastik dan aliran limbah berwarna gelap.

Populasi ikan sapu-sapu di Indonesia terus meningkat secara masif dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap keseimbangan ekosistem perairan tawar sekaligus membuka risiko baru di luar aspek lingkungan.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bahkan melakukan operasi penangkapan dan penguburan massal pada pertengahan April 2026. Langkah ini bertujuan menekan populasi spesies yang telah meledak di berbagai kanal ibu kota.

Ikan sapu-sapu merupakan spesies pendatang dari Sungai Amazon Amerika Selatan yang masuk ke Indonesia sejak 1970-an. Tanpa predator alami, ikan ini berkembang sangat cepat dan mulai menggeser keberadaan ikan lokal.

Dampaknya tidak hanya merusak habitat sungai, tetapi juga memunculkan ancaman lanjutan yang berkaitan langsung dengan kesehatan manusia.

Dari Kerusakan Ekosistem ke Ancaman Kesehatan

Kemampuan ikan sapu-sapu bertahan di perairan tercemar menjadi titik awal munculnya risiko kesehatan. Ikan ini hidup dengan mengonsumsi limbah organik dari lingkungan kotor.

Kondisi tersebut membuat tubuh ikan berpotensi menyerap berbagai zat beracun. Risiko utamanya adalah akumulasi logam berat seperti merkuri dan timbal di dalam daging ikan.

Jika dikonsumsi, zat berbahaya ini dapat merusak organ vital seperti hati dan ginjal. Selain itu, paparan logam berat juga berisiko mengganggu sistem saraf serta membawa bakteri dari lingkungan tercemar.

Dalam jangka panjang, konsumsi ikan dari air kotor dapat meningkatkan risiko penyakit kronis. Dari sini, persoalan ikan sapu-sapu tidak lagi berhenti pada isu lingkungan, tetapi mulai masuk ke ranah keamanan pangan.

Kekhawatiran Pangan: Dari Sungai ke Meja Makan

Kekhawatiran tersebut semakin menguat ketika muncul dugaan pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai bahan pangan murah. Dilansir Kompas (23/4/2026), Executive Chef Fraser Residence Menteng, Haryadi Rondonuwu, menegaskan bahwa ikan ini tidak layak dikonsumsi.

Habitatnya yang kotor membuat kualitas ikan sapu-sapu setara dengan biota yang hidup di lingkungan limbah. Namun demikian, harga murah membuat potensi penyalahgunaan sebagai bahan makanan tetap terbuka.

Salah satu kekhawatiran yang berkembang adalah penggunaan ikan ini dalam olahan siomay. Oleh karena itu, konsumen perlu memahami cara sederhana untuk membedakan produk yang aman.

Pertama, perhatikan warna siomay. Siomay dari ikan sapu-sapu cenderung lebih gelap dan kusam, sedangkan siomay ikan tenggiri tampak lebih cerah.

Kedua, cium aromanya. Olahan ikan sapu-sapu biasanya memiliki bau amis yang lebih tajam meski sudah dimasak.

Ketiga, periksa teksturnya saat dikunyah. Siomay yang aman terasa kenyal dan lembut, bukan keras atau berserat kasar.

Terakhir, waspadai harga yang terlalu murah. Harga di bawah standar sering kali menjadi indikator penggunaan bahan baku yang tidak layak konsumsi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa invasi ikan sapu-sapu tidak hanya merusak ekosistem sungai, tetapi juga berpotensi mengancam keamanan pangan masyarakat. Apa yang berasal dari air tercemar bisa berakhir di meja makan tanpa disadari.

Oleh karena itu, kewaspadaan konsumen menjadi kunci utama untuk meminimalkan risiko gangguan kesehatan.(*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending