By admin
14.12.25

Ketimpangan Netflix: Warga Norwegia Perlu 24 Menit Bekerja untuk Membayar Langganan, Indonesia 7 Jam

Layanan streaming membuka fakta ketimpangan global. Netflix adalah pengeluaran kecil bagi negara maju, namun masih kemewahan bagi banyak negara berkembang karena pendapatan yang timpang./Ilustrasi

MAHAKAMA – Di Oslo, Norwegia, menonton film di Netflix hanyalah perkara bekerja selama 24 menit. Namun di Kigali, Rwanda, untuk menikmati tontonan yang sama, seseorang harus bekerja lebih dari dua hari penuh. Dari layar yang sama, kesenjangan ekonomi dunia terlihat begitu jelas.

Dengan lebih dari 300 juta pelanggan di seluruh dunia, Netflix kini menjadi simbol gaya hidup digital global. Namun dibalik tontonan tanpa iklan itu, tersembunyi jurang daya beli yang lebar. Di negara maju, biaya langganan hanyalah pengeluaran kecil. Di negara berkembang, harga yang sama bisa berarti beban finansial yang nyata.

Laporan Cloudwards 2025 membandingkan harga langganan standard plan Netflix dengan median pendapatan bulanan di berbagai negara. Dari situ terlihat, waktu kerja yang dibutuhkan untuk membayar biaya langganan bulanan sangat bervariasi, dari hitungan menit hingga puluhan jam.

Negara Kaya: Nonton Setelah Setengah Jam Kerja

Hasilnya, Norwegia menduduki posisi pertama sebagai negara paling mudah berlangganan Netflix. Masyarakatnya hanya butuh bekerja 24 menit untuk bisa membayar langganan Netflix per bulan. Rata-rata pendapatan di Norwegia sebesar US$5.434,05 (sekitar Rp 85,3 juta ), sedangkan biaya langganan bulanan Netflix di sana sebesar US$12,46 (sekitar Rp 195,6 ratus ribu). Di bawahnya ada Luksemburg (26 menit), Islandia (30 menit), Belgia (34 menit), dan Belanda (36 menit).

Data ini menunjukkan bahwa negara-negara maju dengan pendapatan per kapita tinggi memiliki akses hiburan digital yang sangat mudah. Keterjangkauan ini membuat layanan streaming menjadi bagian kecil dari pengeluaran bulanan mereka.

Negara Miskin: Dua Hari untuk Sekadar Nonton

Kondisi berbalik tajam di Afrika Timur. Di Rwanda, warga harus bekerja 35 jam 12 menit untuk menutup biaya langganan US$ 7,99, atau lebih dari dua hari kerja penuh. Etiopia menyusul dengan 17 jam 15 menit, lalu Zimbabwe dengan 14 jam 16 menit.

Jika dihitung secara rasio, warga Rwanda harus bekerja 88 kali lebih lama dibanding warga Norwegia untuk menikmati konten yang sama. Ini bukan hanya soal ekonomi, tapi juga tentang siapa yang punya akses terhadap hiburan modern.

Dari negara-negara di atas butuh setidaknya dua hari kerja penuh untuk bisa membayar biaya langganan Netflix. Hal ini berbanding terbalik dengan Norwegia yang hanya butuh 24 menit kerja. Fakta ini menyoroti kesenjangan ekonomi digital yang dalam, di mana Netflix bukanlah hiburan sehari-hari, melainkan barang mewah.

Indonesia: 7 Jam Kerja untuk Nikmati Netflix

Warga Indonesia sendiri butuh bekerja 7 jam 15 menit untuk bisa membayar biaya langganan Netflix. Rinciannya, rata-rata pendapatan sebesar US$199,44 (sekitar Rp 3.,33 juta) dengan biaya langganan sebesar US$7,26 (sekitar Rp 114 ratus ribu) per bulan. Posisi Indonesia masih di level menengah global, lebih baik dari Myanmar yang membutuhkan sekitar 12 jam 10 menit kerja untuk membayar langganan. Sayangnya masih tertinggal dari Malaysia yang hanya memerlukan 3 jam 28 menit kerja.

Meski biaya langganannya termasuk termurah di Asia Tenggara, daya beli digital masyarakat masih terbatas. Netflix tetap menjadi pilihan hiburan bagi kelas menengah perkotaan, bukan konsumsi massal.

Ketimpangan Baru: Digital Affordability Gap

Data Cloudwards menunjukkan bahwa harga langganan global sebenarnya tidak jauh berbeda antarnegara. Namun yang membuat jarak begitu lebar adalah perbedaan pendapatan. Artinya, bukan harga Netflix yang mahal, tetapi pendapatan masyarakat di banyak negara yang terlalu rendah.

Fenomena ini memperlihatkan bentuk baru dari digital divide, kesenjangan bukan lagi soal siapa yang punya internet, tapi siapa yang mampu membayar akses hiburan digital. Dalam dunia yang terkoneksi, menonton film kini menjadi simbol nyata jarak ekonomi antarnegara. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending