MAHAKAMA – Rintik hujan yang jatuh di atas atap seng kini bukan lagi sekadar nyanyian alam yang menenangkan. Genangan air di kaleng bekas belakang rumah justru menjadi sarang maut bagi nyamuk yang siap mengancam nyawa keluarga.
Kondisi ini berkaitan langsung dengan Demam Berdarah Dengue (DBD), penyakit yang menular melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Virus berpindah saat nyamuk terinfeksi menghisap darah manusia dan memicu gejala seperti demam tinggi hingga nyeri sendi. Tingginya curah hujan memperparah risiko karena genangan air menjadi tempat ideal bagi nyamuk berkembang biak.
Dampaknya mulai terlihat dari data kasus. Dinas Kesehatan Kalimantan Timur mencatat 600 kasus DBD hingga Februari 2026. Secara lebih luas, Badan Pusat Statistik 2025 menempatkan Kalimantan Timur di posisi kedua nasional dengan angka 144 kasus per 100 ribu penduduk. Artinya, dari setiap 100 ribu orang, sekitar 144 di antaranya tercatat menderita DBD dalam periode tersebut.
Perbandingan Angka Kesakitan DBD di Sepuluh Provinsi Tertinggi

Tingginya angka di Kalimantan Timur menjadi lebih jelas jika dibandingkan dengan provinsi lain. Bali menempati urutan pertama dengan 232 kasus per 100 ribu penduduk, disusul Kalimantan Timur di posisi kedua dengan 144 kasus.
Kepulauan Bangka Belitung berada di peringkat ketiga dengan 104 kasus, diikuti DKI Jakarta sebesar 95 kasus. Kepulauan Riau dan Jawa Barat juga masuk dalam kategori tinggi dengan masing-masing 91 dan 88 kasus.
Provinsi lain seperti Sulawesi Barat mencatat 77 kasus, Lampung 69 kasus, serta Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Utara yang melengkapi sepuluh besar dengan 63 dan 57 kasus per 100 ribu penduduk. Perbandingan ini menunjukkan bahwa risiko penularan di Kalimantan Timur masih tergolong tinggi secara nasional.
Pengaruh Curah Hujan dan Kurangnya Pengetahuan Masyarakat
Tingginya kasus tersebut tidak terlepas dari faktor lingkungan dan perilaku masyarakat. BMKG Kalimantan Timur memprediksi curah hujan kategori menengah sebesar 50–150 milimeter dengan peluang lebih dari 90 persen, kondisi yang cukup untuk menciptakan genangan air di berbagai tempat.
Di Kabupaten Berau, curah hujan bahkan diperkirakan mencapai 150–300 milimeter. Situasi ini mempercepat siklus hidup nyamuk dan menjaga populasinya tetap tinggi di permukiman warga.
Namun, faktor alam bukan satu-satunya penyebab. Penelitian Kulsum dkk. dalam artikel Faktor Risiko DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Bunyu (2023) di Kabupaten Bulungan menunjukkan bahwa praktik pencegahan masyarakat masih belum optimal. Banyak warga belum rutin menguras dan menutup tempat penampungan air, serta masih menumpuk barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
Langkah Praktis Pencegahan DBD di Lingkungan Rumah Tangga
Kondisi tersebut menegaskan bahwa pencegahan harus dimulai dari lingkungan terdekat. Upaya paling efektif adalah penerapan gerakan 3M, yaitu menguras tempat air, menutup rapat wadah, dan mendaur ulang barang bekas secara rutin.
Selain itu, pemasangan kawat kasa pada ventilasi dan penggunaan kelambu saat tidur dapat mengurangi kontak dengan nyamuk. Menjaga kebersihan lingkungan rumah menjadi kunci karena sebagian besar penularan terjadi di area tempat tinggal.
Pemerintah terus mendorong edukasi perilaku hidup bersih dan sehat. Namun tanpa keterlibatan aktif masyarakat, penanganan di fasilitas kesehatan hanya akan menjadi langkah di hilir, sementara sumber penularan tetap berlangsung di lingkungan sehari-hari. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin