MAHAKAMA – Gema suara doa membumbung tinggi dari deretan rumah ibadah saat fajar menyingsing. Masyarakat Indonesia memang menempatkan spiritualitas sebagai napas utama dalam menjalani setiap detik kehidupan mereka.
Momen spiritual ini semakin menguat ketika memasuki bulan Ramadan saat umat Muslim fokus beribadah. Salah satu praktik rutin yang mereka jaga adalah kebiasaan mengetuk pintu langit melalui doa yang konsisten.
Kebiasaan personal tersebut tercermin dalam temuan Pew Research Center 2025. Laporan itu mencatat 95 persen responden di Indonesia rutin berdoa minimal sekali sehari. Persentase tersebut menempatkan Indonesia di posisi puncak dari 35 negara yang disurvei.
Dominasi Indonesia dalam Statistik Doa Global


Posisi puncak tersebut tidak hanya terlihat dari frekuensi doa harian. Pew Research Center 2025 juga mencatat 94 persen responden Indonesia menilai agama sebagai aspek yang sangat penting dalam kehidupan mereka.
Temuan ini memperlihatkan bahwa praktik berdoa berjalan seiring dengan kuatnya persepsi terhadap peran agama dalam ruang pribadi maupun sosial.
Dominasi Indonesia kemudian diikuti oleh Nigeria dan Kenya yang masing-masing mencatat angka 84 persen. Tren serupa juga terlihat di beberapa negara tetangga seperti Malaysia dengan 80 persen serta Filipina 79 persen.
Angka tersebut membuktikan bahwa praktik doa tetap menjadi ritme sosial yang hidup di tengah arus modernisasi. Fenomena ini terlihat kuat di kawasan Asia dan Afrika yang masih menjaga nilai religius dalam ruang publik.
Kontrasnya mulai terlihat ketika data yang sama menyoroti negara-negara Barat.
Swedia tercatat sebagai negara paling tidak rajin berdoa karena hanya menyentuh angka 8 persen. Sikap skeptis terhadap praktik doa harian ini juga merambat ke Hungaria yang mencatatkan angka 11 persen.
Sementara itu, Jerman dan Australia membuntuti dengan persentase masing-masing sebesar 16 persen. Kecenderungan serupa juga melanda Polandia dan Perancis yang mencatat angka identik sebesar 18 persen.
Perbandingan ini memperlihatkan jurang spiritualitas yang lebar antara masyarakat di belahan bumi selatan dengan negara-negara Barat. Perbedaan tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan berhubungan dengan dinamika sosial yang lebih luas.
Lensa Sekularisasi dan Arsitektur Publik
Perbedaan kontras ini dapat dipahami melalui teori sekularisasi dalam sosiologi agama. Karel Dobbelaere dalam jurnal Sociology of Religion menjelaskan bahwa modernisasi di Barat sering mendorong agama keluar dari pusat institusi sosial.
Akibatnya, praktik keagamaan di sana berubah menjadi urusan yang jauh lebih privat dan tertutup. Sebaliknya, kultur sosial yang kolektif di Asia membuat aktivitas berdoa tetap bersifat komunal dan menjadi norma sosial yang terlihat.
Masyarakat di kawasan ini mengintegrasikan simbol religius ke dalam budaya dan kehidupan sehari-hari secara harmonis. Untuk itu, doa bukan hanya praktik personal, melainkan bagian dari denyut sosial. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin