By admin
22.03.26

Indeks Membaca Kaltim Turun ke 57,86, tapi Kualitas Pasca-Baca Tetap Tinggi

Nusa Tenggara Timur memimpin Indeks Kegemaran Membaca nasional 2025 dengan skor 62,05, sementara Kalimantan Timur tetap mencatatkan performa kompetitif di atas rata-rata nasional./Ilustrasi

MAHAKAMA – Jemari kecil seorang anak perlahan membalik halaman buku cerita di bawah temaram lampu teras rumah. Suasana hening itu menjadi saksi bagaimana imajinasi seseorang mulai berkelana menembus batas ruang dan waktu melalui untaian kata.

Membaca menjadi jembatan penting untuk memperluas wawasan dan meningkatkan kualitas hidup. Kegiatan ini tidak hanya mengasah empati dan konsentrasi, tetapi juga menjadi hiburan yang menyehatkan mental, baik melalui komik, novel, maupun buku nonfiksi.

Karena perannya yang penting, pemerintah rutin memantau tingkat kegemaran membaca masyarakat. Survei Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) 2025 dari Perpustakaan Nasional dan Badan PPS menunjukkan indeks nasional berada pada angka 54,8 dengan variasi capaian antarprovinsi.

Indeks TKM tersebut disusun melalui tiga fase utama, yaitu pra-membaca, saat membaca, dan pasca-membaca. Fase pra-membaca menilai ketersediaan buku dan dukungan lingkungan. Fase saat membaca mengukur motivasi serta durasi membaca. Sedangkan fase pasca-membaca melihat dampaknya pada perilaku sosial seperti berdiskusi atau menulis.

Dominasi Wilayah Luar Jawa dalam Peringkat Literasi Nasional

Jika melihat sebaran provinsi, peta literasi nasional tahun ini menunjukkan dominasi wilayah luar Jawa. Nusa Tenggara Timur mencatatkan nilai tertinggi secara nasional dengan skor 62,05. Provinsi tersebut menunjukkan konsistensi tinggi pada seluruh tahapan, terutama pada skor pasca-membaca yang mencapai 65,38.

Di posisi berikutnya, Nusa Tenggara Barat meraih skor 61,19 diikuti oleh Sumatra Selatan dengan angka 60,86. Maluku Utara juga menembus kelompok lima besar nasional dengan perolehan skor sebesar 60,66. Sementara itu, Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan mencatatkan capaian yang cukup bersaing di angka 59,85 serta 59,84.

Menariknya, seluruh provinsi dalam daftar sepuluh besar TKM 2025 justru berada di luar Pulau Jawa. Kondisi ini menunjukkan bahwa lingkungan sosial di luar Jawa memiliki motivasi kuat untuk berkembang melalui aktivitas membaca.

Dinamika Indeks Membaca dan Posisi Kalimantan Timur

Meskipun didominasi provinsi luar Jawa, Kalimantan Timur tidak termasuk 10 besar meskipun berada diposisi yang cukup kompetitif. 

Selain itu, Nilai TKM di Kalimantan Timur mengalami penurunan dari 69 pada 2024 menjadi 57,86 pada 2025.

Tren serupa juga terjadi secara nasional dengan indeks rata-rata Indonesia merosot dari 72,44 menjadi 54,8 pada periode yang sama. Penurunan ini kemungkinan dipengaruhi perubahan metodologi survei atau indikator penilaian.

Meski begitu, tingkat kegemaran membaca di Kalimantan Timur masih berada sekitar tiga poin di atas rata-rata nasional. Keunggulan tersebut terlihat pada fase pra-membaca yang mencapai skor 52,7, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 50,05. Hal ini menunjukkan ketersediaan bahan bacaan serta dukungan lingkungan membaca relatif lebih baik.

Dampak membaca di daerah ini juga terlihat kuat pada fase pasca-membaca dengan skor 62,26. Angka ini menunjukkan bahwa aktivitas membaca lebih sering berlanjut pada diskusi intelektual maupun proses pengambilan keputusan.

Peran Lingkungan Rumah dalam Memperkuat Pemahaman Teks

Temuan tersebut sejalan dengan penelitian Inouk E. Boerma, Suzanne E. Mol, dan Jelle Jolles (2017) berjudul The Role of the Home Literacy Environment in Reading Comprehension. Penelitian ini menemukan bahwa anak yang tumbuh dalam lingkungan literasi kuat cenderung memiliki kemampuan pemahaman membaca yang lebih baik.

Dukungan orang tua dan partisipasi aktif komunitas literasi terbukti meningkatkan kemampuan seseorang dalam memahami isi teks secara mendalam. Karena itu, lingkungan yang kondusif tidak hanya membuat orang membaca lebih sering tetapi juga membantu mereka menyerap informasi dengan benar.

Sinergi antara ketersediaan buku dan dukungan sosial menjadi kunci utama dalam membangun masyarakat yang cerdas. Literasi pada akhirnya merupakan investasi jangka panjang yang menentukan kualitas masa depan generasi penerus bangsa. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending