Mahakama.co.id – Pemerintahan Bashar al-Assad berakhir secara dramatis pada 8 Desember setelah 24 tahun berkuasa. Assad melarikan diri dari Suriah ke Moskow, meninggalkan pendukungnya.
Assad merahasiakan rencana pelariannya dari lingkaran terdekat, termasuk ajudan, pejabat militer, dan keluarganya. Ia meninggalkan Damaskus dengan transponder dimatikan.
Penipuan
Sebelum melarikan diri, Assad meyakinkan 30 kepala militer dan keamanan bahwa bantuan dari Rusia akan segera datang. Ia juga menipu penasihat medianya, Buthaina Shaaban.
Rusia dan Iran Menolak Bantuan
Rusia dan Iran menolak memberi bantuan militer kepada Assad, memprioritaskan konflik di Ukraina dan menghindari serangan Israel.
Upaya Penyelamatan Diplomatik

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, memimpin upaya diplomatik untuk memastikan keselamatan Assad, bekerja sama dengan Qatar, Turki, dan kelompok pemberontak.
Keputusan Assad untuk kabur tanpa perlawanan memicu kecaman keras. Nadim Houri dari Arab Reform Initiative menyebutnya “pengkhianatan” terhadap pendukungnya. (net/ra)