Mahakama.co.id – Bumi kita saat ini mengalami pemanasan yang begitu cepat, dengan suhu yang meningkat lebih pesat di beberapa wilayah tertentu. Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa beberapa titik panas mengalami kenaikan suhu jauh melampaui perkiraan model iklim yang ada. Menurut Kai Kornhuber, penulis utama studi dan ilmuwan di Observatorium Bumi Lamont-Doherty di Columbia Climate School, fenomena ini menandakan adanya tren ekstrem yang disebabkan oleh faktor-faktor yang belum sepenuhnya kita pahami.
Gelombang Panas Ekstrem Mengancam, Dampak Kesehatan dan Infrastruktur Menanti
Anomali iklim semakin menunjukkan dampak yang mengkhawatirkan. Pada 2021, misalnya, Pasifik Barat Laut dilanda panas ekstrem yang mengakibatkan ratusan kematian. Gelombang panas juga menyebabkan puluhan ribu orang meninggal di Eropa pada 2022 dan 2023. Bahkan, Jepang pada 2018 menghadapi cuaca panas yang cukup ekstrem hingga dinyatakan sebagai bencana alam, sementara Afrika pada tahun ini juga dilanda panas yang sangat tinggi yang menyebabkan kebakaran hebat di beberapa wilayah.
Studi Mengungkap Ketidaksiapan Kita Menghadapi Perubahan Iklim yang Semakin Ekstrem

Peneliti dalam jurnal PNAS menyebutkan bahwa suhu ekstrem di berbagai titik panas mengalami kenaikan yang jauh lebih cepat daripada wilayah dengan suhu lebih moderat. Beberapa faktor penyebabnya termasuk meningkatnya suhu global yang memicu semakin seringnya gelombang panas, serta gangguan dalam jetstream yang mengakibatkan kekeringan dan gelombang panas di Eropa pada 2018. Gangguan serupa diyakini turut memperburuk gelombang panas di Pasifik Barat Laut pada 2021.
Para peneliti juga menyebutkan bahwa gangguan atmosfer yang terjadi selama beberapa dekade terakhir turut berperan dalam menciptakan peristiwa ekstrem, yang mengakibatkan kekacauan iklim lokal dalam waktu yang singkat. Kornhuber juga memperingatkan bahwa kita belum sepenuhnya siap menghadapi apa yang akan terjadi di masa depan. “Gelombang panas yang belum pernah terjadi sebelumnya ini dapat menyebabkan dampak kesehatan yang sangat serius dan menjadi bencana besar bagi sektor pertanian, vegetasi, serta infrastruktur,” katanya. “Kita mungkin tidak dapat beradaptasi dengan cukup cepat,” tambah Kornhuber. (net/ra)