By admin
26.11.25

Mengenang Aminah Syukur: “Kartini” dari Benua Etam, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa di Bidang Pendidikan

Foto: Aminah Syukur sedang duduk di kursi/HO-Koleksi Galeri Samarinda Bahari

MAHAKAMA — Nama Aminah Syukur mungkin tidak setenar pahlawan nasional lainnya, namun di Kalimantan Timur (Kaltim), ia dikenang sebagai sosok “Kartini” yang gigih memperjuangkan hak pendidikan, terutama bagi kaum perempuan pribumi di masa kolonial.

Dikenal sebagai pelopor pendidikan di Samarinda, pengabdiannya yang tulus menjadikannya pahlawan tanpa tanda jasa yang warisannya terus hidup hingga kini.

Pendiri Sekolah Perempuan Pertama di Samarinda

Lahir dengan nama Atje Voorstad di Palembang pada 20 Januari 1901, Aminah Syukur adalah seorang perempuan berdarah Belanda-Palembang.

Takdir membawanya ke Samarinda. Di kota tepian itu, ia menemukan panggilan hidupnya.

Setelah memeluk Islam dan menikah dengan pemuda lokal, Mohammad Jacob, ia mengganti namanya menjadi Aminah Syukur.

Pada tahun 1928, bersama suaminya, Aminah mendirikan Meisje School (Sekolah Perempuan) di Yacob Steg yang kini dikenal sebagai Jalan Mutiara. Pendirian sekolah ini merupakan langkah revolusioner.

Di tengah kebijakan kolonial yang meminggirkan kesempatan belajar bagi anak-anak pribumi, khususnya perempuan yang hanya dipandang untuk urusan domestik, Aminah Syukur hadir sebagai pembawa cahaya.

“Aminah Syukur merasa bahwa perempuan saat itu kerap dinomorduakan. Lembaga pendidikan untuk perempuan pun ia dirikan untuk menghapus ketimpangan itu,” ujar Muhammad Sarip, sejarawan Kalimantan Timur.

Walau fokusnya pada murid perempuan, sekolah ini juga membuka pintu untuk beberapa murid laki-laki. Salah satunya adalah Abdoel Moeis Hassan, keponakan Aminah, yang kelak menjadi tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan di Kaltim.

Keputusan ini menunjukkan bahwa bagi Aminah, pendidikan adalah hak semua anak, tanpa membedakan gender. Aminah tak hanya mendirikan sekolah, ia kemudian mengajar di berbagai sekolah formal seperti SD Negeri Sungai Pinang, SD Permandian, dan Sekolah Kepandaian Puteri

Pengabdian Melebihi Panggilan Tugas

Dedikasi Aminah terhadap pendidikan tidak terbatas di ruang kelas formal. Ia dikenal sebagai sosok yang disiplin namun penuh kasih. Bahkan, setelah jam pelajaran selesai, ia sering memberikan pelajaran tambahan tanpa bayaran. Rumahnya di Wilhelmina Straat (sekarang Jalan P. Diponegoro) pun kerap berubah menjadi ruang kelas dadakan.

Perjalanan mengajar Aminah dari satu sekolah ke sekolah yang lain dengan jarak yang cukup jauh patut diapresiasi. Ia kemudian akrab disapa anak-anak sebagai ‘Nenek Belanda’ karena perawakannya yang memang keturunan Belanda.

Di usia yang telah melewati 60 tahun, Aminah tetap aktif mengajar tanpa pernah mengharap imbalan. Baginya, kepuasan datang dari melihat muridnya bisa membaca, menulis, dan menggapai masa depan.

Arsip-arsip sejarah di Dinas Perpustakaan Kota Samarinda dan Museum Kota Samarinda mencatat perjalanan Aminah Syukur.

Kegigihannya membuat Aminah menjadi salah satu tokoh pendidikan paling berpengaruh di Kalimantan Timur. Ia memajukan peradaban perempuan di Kaltim, yang jejaknya masih berbekas di Samarinda.

Penghormatan Abadi

Foto: Jalan Aminah Syukur (kiri) dan SMP Aminah Syukur (kanan)/Google Maps 2025

Meskipun wafat di Jakarta pada tahun 1968, Pemerintah Kota Samarinda pada masa Wali Kota H.M Kadrie Oening memutuskan untuk memindahkan makam Aminah Syukur ke Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa pada Hari Kartini, 21 April 1970.

Tindakan ini menjadi simbol penghormatan tertinggi atas jasa-jasanya dalam memajukan peradaban perempuan di Kalimantan Timur.

Kini, nama Aminah Syukur diabadikan sebagai nama jalan utama dan nama sekolah di Samarinda, memastikan bahwa perjuangan sang pahlawan pendidikan ini tak lekang oleh zaman.

Aminah Syukur adalah bukti nyata bahwa gelar kepahlawanan sejati terletak pada dedikasi dan warisan abadi yang diberikan kepada generasi penerus, menjadikannya “Kartini” sejati dari Benua Etam. (*)

Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin

Trending