MAHAKAMA – Mendengar nama Loa Kulu, yang terbayang di benak kita mungkin hanya sebatas salah satu kecamatan di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur.
Namun, jauh sebelum hiruk pikuk pertambangan modern dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) ramai diperbincangkan, Loa Kulu ternyata menyimpan cerita kejayaan sebagai pusat industri batu bara terbesar di Kalimantan Timur, bahkan dijuluki sebagai “Kota Metropolitan” di masanya.
Ya, Loa Kulu bukan sekadar titik di peta. Ia adalah saksi bisu peradaban industri yang dibangun sejak era kolonial.
Jejak Emas Hitam di Tepi Mahakam
Sejarah mencatat, kejayaan Loa Kulu dimulai pada tahun 1888 saat perusahaan Belanda, Oost Borneo Maatschappij (OBM), membuka tambang batu bara di wilayah ini. Batu bara dari Loa Kulu dikenal berkualitas baik dan menjadi salah satu sumber pendapatan penting bagi Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.
Di masa jayanya, sekitar awal abad ke-20, Loa Kulu berkembang menjadi kota yang ramai dan modern. Bayangkan saja, di sini pernah berdiri pabrik semen, pasar besar, hingga pelabuhan yang sibuk melayani pengangkutan batu bara ke berbagai penjuru dunia. Statusnya sebagai pusat perdagangan membuat Loa Kulu jauh lebih dulu ramai dibandingkan Samarinda atau Balikpapan kala itu.
Namun, kejayaan itu perlahan meredup. Setelah kemerdekaan, perusahaan diambil alih oleh pemerintah Indonesia, tetapi aktivitas tambang masif di era kolonial berakhir sepenuhnya sekitar tahun 1970-an. Kini, yang tersisa adalah peninggalan bersejarah yang sunyi, menjadikannya sebutan akrab “Kota Tua”.
Warisan Sejarah: Pengingat dari Akademisi dan Penulis
Meskipun gemerlap industri telah pudar, Loa Kulu menyisakan banyak situs yang bernilai edukatif dan wisata sejarah, mulai dari bekas kantor Gedung Magazijn, terowongan tambang bawah tanah di Lubang Tiga, hingga situs kelam seperti Tugu dan Lubang Pembantaian Jepang.
Keberadaan jejak ini menjadi materi penting bagi para pemerhati sejarah dan akademisi. Fajar Alam, seorang Geolog dan Pemerhati Sejarah Kalimantan Timur yang juga penulis buku tentang Loa Kulu, menekankan pentingnya arsip sejarah.
”Banyak orang tidak tahu bahwa di sini ada bekas tambang batubara era Belanda yang memiliki nilai sejarah tinggi. Kami berupaya mendokumentasikannya, karena semua sejarah penting, tidak harus menunggu peristiwa besar untuk diarsipkan,” tutur Fajar Alam.
Senada dengan itu, Syafruddin Pernyata, Mantan Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Timur dan Penulis, mendorong agar warisan ini dikelola dengan baik.
”Loa Kulu tidak bisa dilupakan. Ia memiliki gua dan beberapa situs sejarah. Loa Kulu ini bisa menjadi tujuan wisata Kukar. Warga tidak harus selalu ke Tenggarong, mereka juga bisa menuju ke Loa Kulu untuk menjelajahi berbagai situs sejarah,” ujar Syafruddin.
Tantangan dan Harapan Masa Depan
Transformasi Loa Kulu dari pusat tambang raksasa menjadi kecamatan dengan fokus pada pertanian dan usaha mikro bukan tanpa tantangan. Dampak pertambangan, baik legal maupun ilegal, hingga kini masih terasa, terutama terkait ancaman terhadap lahan pertanian dan lingkungan, seperti di Desa Sumber Sari yang merupakan lumbung pangan Kukar.
Di sisi pemerintah daerah, upaya pelestarian dan pengembangan terus didorong. Ardiansyah, Camat Loa Kulu, menyebut bahwa situs sejarah adalah aset strategis.
”Kecamatan Loa Kulu bisa dikatakan sebagai pusat sejarah karena memiliki situs-situs penting, seperti Tugu Pembantaian di Desa Loh Sumber. Kami terus mendorong desa-desa untuk aktif menggali potensi wisata dan sejarah. Kalau dikelola dengan baik, desa bisa mandiri dan ekonomi masyarakat pun ikut tumbuh,” jelas Ardiansyah.
Loa Kulu adalah cerminan sejarah Kalimantan Timur: sebuah daerah yang pernah berdiri megah karena kekayaan alamnya, lalu terombang-ambing antara warisan masa lalu dan tantangan masa kini. Melalui penelusuran jejak-jejaknya, kita diajak untuk memahami bahwa kecamatan ini bukan sekadar wilayah administratif, melainkan sebuah “Kota Tua” yang menyimpan narasi panjang peradaban dan perjuangan, yang kini siap bangkit dengan identitas baru.
Penulis : Redaksi