DI LAUT Mediterania, ombak masih menyimpan memori kejayaan. Yaffa, mutiara pesisir Palestina, kini hanya tinggal nama. Kota pelabuhan indah ini hilang setelah Israel mencaploknya.
Secara historis, Palestina menjadi pusat persimpangan budaya di dunia Arab. Pada awal abad ke-20, sektor pertanian dan perdagangan Palestina berkembang pesat. Kehidupan perkotaan juga semarak dengan teater, musik, dan sastra. Bahkan, kota-kota Palestina menjalin hubungan erat dengan ibu kota Arab, seperti Kairo dan Damaskus.
Yaffa: Jantung Perdagangan dan Budaya Palestina
Sebelum Israel berdiri, Yaffa atau Jaffa berfungsi sebagai pusat perdagangan Palestina. Pelabuhan bersejarahnya menjadi gerbang menuju Laut Mediterania. Kota ini telah digunakan sejak zaman Alkitab. Sepanjang abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Yaffa dipenuhi berbagai bisnis sukses.
Pabrik-pabrik di kota ini memproduksi beragam barang, mulai dari peti jeruk hingga sabun dan minyak zaitun. Selain itu, sebagian besar surat kabar dan buku di Palestina dicetak di Yaffa. Hal ini menjadikan kota tersebut pusat kehidupan yang dinamis, makmur, dan kaya.
Kota-kota Palestina yang berkembang pesat bertentangan dengan narasi Zionis. Zionis mengajukan klaim bahwa Palestina adalah “tanah tanpa rakyat”. Padahal, kota-kota Palestina berada di garis depan peradaban Arab. Kenyataannya, Zionis menghancurkan kota-kota Palestina pada tahun 1948.
Strategi Zionis: Menghapus Identitas Kota
Dilansir CNN Indonesia (30/9/2025), Peneliti Palestina, Antoine Shalhat, mengungkap strategi Zionis. Mereka melemahkan identitas budaya perkotaan Palestina. Zionis melihat kota-kota Palestina sebagai ancaman bagi tujuan mereka. Oleh karena itu, mereka melancarkan perang brutal terhadap kota-kota. Ketika pasukan Zionis menguasai Yaffa pada April 1948, mereka mengusir mayoritas warga Palestina.
Menurut akademisi Palestina, Dr. Raef Zreik, sedikit keluarga Palestina yang bertahan terpaksa tinggal di area berpagar kawat berduri. Pada 1948, gerombolan Zionis Israel mengusir secara paksa lebih dari 700.000 warga Palestina. Mereka meninggalkan sekitar 400 hingga 600 kota dan desa hingga hampir kosong. Israel juga berupaya menghapus nama-nama Arab dan menggantinya dengan nama-nama Ibrani.
Warisan yang Menolak Lenyap
Meskipun Yaffa berhenti berdetak dalam semalam, seluruh cara hidup ikut lenyap. Zionis melarang para pedagang mengakses toko mereka. Mereka juga mencegah keluarga-keluarga kembali ke rumah mereka. Zionis kemudian menjarah rumah-rumah tersebut. Israel berupaya menggambarkan warga Palestina kepada dunia sebagai kaum tak berbudaya. Mereka menyiratkan bahwa pengungsi Palestina akan mudah melebur ke negara-negara Arab.
Mengembalikan budaya Palestina secara utuh tanpa kota-kota bersejarahnya merupakan tantangan besar. Sebagian besar warga Palestina saat ini lahir setelah 1948. Akibatnya, mereka tidak memiliki ikatan nyata dengan warisan mereka.
Namun demikian, jejak warisan Palestina masih dapat ditemukan bagi yang mencarinya. Petunjuk kecil masa lalu ini menunjukkan budaya dapat bertahan. Warisan Palestina terbukti lebih tahan lama dari pendudukan Israel. Seperti dilansir Anadolu, warga Palestina menamai anak perempuan mereka dengan nama kota asal. Upaya ini bertujuan agar kota-kota bersejarah tersebut tetap hidup dalam ingatan generasi muda.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin