LANGIT kota penuh teriakan, jalanan bergetar oleh gelombang manusia. Di antara spanduk dan poster, berkibar bendera tengkorak khas bajak laut.
Bendera Jolly Roger, simbol ikonik dari manga One Piece, kini melintasi batas fiksi. Dalam cerita, bendera ini bukan sekadar kain bergambar tengkorak, tetapi lambang kebebasan dan solidaritas kru bajak laut.
Setiap Jolly Roger mencerminkan jiwa kapten dan tekad kelompoknya. Luffy dengan bendera bergaya sederhana menandai mimpi besar dan hidup bebas. Di dunia nyata, Jolly Roger menjadi simbol ekspresi perlawanan anak muda terhadap kekuasaan.
Dari Jakarta ke Nepal
Di Indonesia, Jolly Roger hadir di berbagai aksi, dari unjuk rasa buruh di Jakarta hingga perayaan jalanan di Bali. Simbol tengkorak itu muncul di antara bendera merah putih, menciptakan kontras yang sengaja ditonjolkan.
Bagi sebagian warga, mengibarkan Jolly Roger berarti mengingatkan pemerintah bahwa rakyat masih berani bersuara. Seperti yang dilakukan Riki Hidayat di Kebayoran, Jakarta Selatan, yang memilih mengibarkan bendera setengah tiang pada Agustus 2025. Ia menyebut aksinya simbol berkabung karena pemerintah dinilai abai pada rakyat.
Tokoh publik ikut memantik diskusi. Ustaz Felix Siauw mengibarkan Jolly Roger ala One Piece dalam sebuah eksperimen sosial. Videonya viral, memperlihatkan polisi mendatangi Felix untuk berdialog. Ia menegaskan aksinya hanya ekspresi pop culture, bukan seruan politik. “Kalau bendera ini dianggap ancaman, berarti semua penonton One Piece juga bajak laut,” tulisnya di Instagram @felix.siauw.

Ledakan Protes di Nepal
Di Kathmandu, ribuan anak muda memenuhi jalan. Mereka menuduh politisi dan keluarganya hidup mewah di tengah kemiskinan rakyat.
Dilansir Detik (10/9/2025), isu Nepo Baby atau istilah untuk anak pejabat yang menikmati hak istimewa karena garis keturunan menjadi bahan bakar utama protes. Generasi muda Nepal menilai keluarga elite politik hidup berlebihan di tengah kesenjangan sosial.
Pesta mewah, mobil mahal, hingga gaya hidup glamor mereka viral di media sosial dan memicu kemarahan publik. Tagar #NepoBaby menggema di media sosial, menyorot pesta mewah, mobil mahal, dan gaya hidup glamor keluarga elite.
Pemerintah mencoba meredam dengan membatasi akses media sosial. Namun, pemuda Nepal justru makin marah. Larangan itu dianggap cara membungkam suara rakyat.
Kemarahan memuncak di depan gedung DPR. Ribuan orang mengibarkan Jolly Roger bersama poster sindiran keluarga pejabat. Aparat bergerak cepat membubarkan kerumunan dengan gas air mata dan tongkat pemukul.
Kekacauan meletus. Jalanan Kathmandu dipenuhi asap, teriakan, dan bentrokan. Suasana lebih panas dibanding demonstrasi di Indonesia. Meski aparat mengepung, bendera tengkorak tetap berkibar gagah.
Bagi generasi muda Nepal, Jolly Roger melambangkan perlawanan terhadap kekuasaan turun-temurun. Simbol bajak laut itu menjadi penegas solidaritas, keberanian, dan mimpi akan sistem politik yang lebih adil.

Gejolak di Peru
Lima, ibu kota Peru, berubah jadi medan protes pada September 2025. Ratusan demonstran, dipimpin gerakan pemuda Generation Z, turun ke jalan menolak aturan dana pensiun swasta.
Aksi berlangsung di pusat kota dengan pengawasan ketat polisi. Massa membawa batu dan kayu, sementara aparat menembakkan gas air mata. Beberapa reporter terkena peluru karet, menambah daftar korban bentrokan. Polisi melaporkan tiga anggotanya juga terluka.
Dilansir CNBC Indonesia (21/9/2025), isu protes tidak berhenti di soal pensiun. Warga menuding pemerintah gagal mengatasi kejahatan terorganisasi dan praktik pemerasan. Popularitas Presiden Dina Boluarte makin terjun bebas, sementara kongres dianggap sarat korupsi.
Di tengah udara penuh gas air mata, Jolly Roger tetap berkibar. Bendera tengkorak itu berdiri di atas kerumunan, seakan menjadi penanda keresahan generasi muda Peru. Bagi mereka, Jolly Roger melambangkan keberanian menantang kekuasaan yang dianggap lalim.
“Sekarang demokrasi justru lebih buruk daripada sebelumnya,” kata Gladys, seorang demonstran, kepada AFP. Celene Amasifuen, peserta aksi lain, menambahkan, “Kongres tidak punya kredibilitas. Mereka hanya membuat kekacauan.”
Simbol dari manga Jepang itu, yang awalnya sekadar budaya populer, berubah menjadi ikon perlawanan di jalanan Lima.

Tanggapan Ahli
Dilansir Kompas (1/8/2025), Prof. Sunny Ummul Firdaus, pakar hukum tata negara Universitas Sebelas Maret (UNS), menilai pernyataan anggota DPR yang mengaitkan pengibaran bendera bajak laut ala One Piece dengan aksi perlawanan terlalu tergesa. Ia menegaskan bahwa penilaian seperti itu perlu analisis cermat agar tidak memicu kesalahpahaman publik.
Pengamat politik regional menambahkan, fenomena ini menunjukkan generasi muda memilih bahasa visual populer untuk menyampaikan protes. Simbol global seperti Jolly Roger menjembatani isu lokal dengan narasi universal tentang kebebasan.
Gelombang bendera bajak laut dari Asia hingga Amerika Latin menunjukkan satu hal: suara rakyat mencari cara baru agar terdengar. Jolly Roger menjadi tanda, bukan sekadar perlawanan, tapi juga kerinduan akan kebebasan. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin