By admin
20.11.24

Hizbullah Terima Usulan AS Untuk Gencatan Senjata dengan Israel

Ilustrasi. Pasukan Tentara Hizbullah di Beirut Selatan, Lebanon 5 April, 2024. (Foto: REUTERS/Mohamed Azakir)

Mahakama.co.id – Lebanon dan milisi Hizbullah telah menerima tawaran gencatan senjata dari Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan pertempuran yang telah berlangsung selama lebih dari setahun dengan Israel. Penawaran ini disampaikan oleh pejabat AS kepada Reuters pada Senin, 18 November 2024.

Pertempuran antara Israel dan Hizbullah di Lebanon telah semakin intens sejak September 2024, yang mengakibatkan lebih dari 3.000 orang tewas. Meskipun Hizbullah dan Lebanon menerima usulan gencatan senjata tersebut, keduanya memberikan komentar terkait rincian kesepakatan yang diajukan.

Pembahasan Kesepakatan Masih Berlangsung

Seorang diplomat AS yang tidak disebutkan namanya mengungkapkan bahwa pembahasan detail mengenai kesepakatan tersebut masih berjalan, dan kesepakatan final diperkirakan akan memakan waktu lebih lama. Utusan Khusus AS, Amos Hochstein, dijadwalkan untuk segera tiba di Beirut untuk membantu merampungkan kesepakatan tersebut.

Dukungan dan Syarat-syarat Gencatan Senjata

Beberapa negara besar mendukung usulan gencatan senjata ini, namun mereka menuntut agar kesepakatan tersebut sejalan dengan Resolusi 1701 Dewan Keamanan PBB. Resolusi yang disepakati pada tahun 2006 itu mengharuskan Hizbullah untuk memindahkan senjata dan pejuangnya sejauh 30 kilometer dari Sungai Litani yang berada di perbatasan utara Israel.

Kepatuhan terhadap Resolusi PBB dan Tantangan dari Israel

Ilustrasi. Warga Palestina berjalan di reruntuhan akibat serangan udara Israel di Beirut, Lebanon. (Foto: REUTERS/Louisa Gouliamaki)

Ajudan Ketua Parlemen Lebanon, Ali Hassan Khalil, mengungkapkan bahwa Lebanon telah mengirimkan surat resmi kepada Kedutaan Besar AS di Beirut. “Semua komentar yang kami sampaikan menegaskan kepatuhan yang tepat terhadap Resolusi 1701 beserta semua ketentuannya,” kata Khalil. Ia juga menambahkan bahwa keberhasilan inisiatif ini bergantung pada sikap Israel. “Jika mereka tidak mau solusi, maka akan menciptakan ratusan masalah,” tegasnya.

Hingga saat ini, Israel belum memberikan respons resmi terkait tawaran gencatan senjata tersebut. (net/ra)

Trending