Mahakama.co.id – Gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah yang dimediasi AS dan Prancis resmi dimulai Rabu (27/11). Meski meredakan ketegangan di perbatasan Lebanon, Israel justru meningkatkan serangan ke Hamas di Gaza.
PM Israel Benjamin Netanyahu menyebut gencatan ini sebagai “peluang strategis.” “Ketika Hizbullah tidak terlibat, Hamas akan bertarung sendirian. Kami akan meningkatkan tekanan terhadapnya,” ujarnya. Netanyahu juga memanfaatkan momen ini untuk memperkuat militer dan mengistirahatkan pasukan.
Upaya Diplomasi dan Tanggapan ICC
Sementara itu, Presiden AS Joe Biden mendorong gencatan senjata di Gaza dengan dukungan Turki, Mesir, dan Qatar. Tujuannya jelas: membebaskan sandera dan memastikan Hamas tidak lagi berkuasa.
Di sisi lain, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat penangkapan terhadap Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant terkait dugaan kejahatan perang di Gaza, khususnya soal perampasan kebutuhan warga sipil. Netanyahu menolak keras keputusan ini, menyebutnya “anti-Semitisme modern.”
Krisis Gaza Kian Memburuk

Situasi kemanusiaan di Gaza terus memburuk. Data Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 44.000 warga Palestina tewas sejak serangan 7 Oktober 2023, mayoritas anak-anak dan perempuan. (net/ra)