By admin
08.10.25

Gaji Tak Pasti: Gen Z Asia Mulai Tren “Lying Flat”

JANJI kerja keras telah berubah menjadi ilusi bagi Gen Z Asia. Gelar sarjana kini terasa seperti tiket yang tak lagi menjamin kemakmuran.

Selama puluhan tahun, kerja keras dan pendidikan tinggi menjanjikan masa depan cerah bagi kaum muda Asia. Namun, tawaran lama itu kini sudah tidak berlaku. Memiliki pendidikan tinggi dari sekolah terbaik tidak menjamin jalan mudah menuju karier. Ketidakpastian ini mengaburkan pencarian kerja bagi jutaan anak muda di seluruh Asia.

Generasi Baru Menolak Kelelahan dan Ambisi

Dilansir Detik.com (4/10/2925), Korea Selatan menyaksikan tanda-tanda perlambatan generasi. Tahun 2021, hampir separuh warga Korea meragukan kemampuan menaiki tangga sosial. Jajak pendapat Juli 2025 mencatat lebih dari 420.000 warga berusia 20-an mengklasifikasikan diri sebagai just resting (geunyang swim). Angka ini naik hampir 60 persen dibanding dekade sebelumnya. Banyak yang memilih honjok, atau hidup menyendiri, menghindari jam kerja panjang korporat.

Di Jepang, satori sedai melepaskan ambisi materi demi kepuasan sederhana. Sementara itu, di China, tang ping menjadi istilah populer untuk generasi yang menolak persaingan ketat. Tren ini bermutasi menjadi bai lan (let it rot), gambaran yang lebih pesimis.

Indonesia dan Asia Tenggara Berjuang Lebih Keras

Di Asia Tenggara, perjuangan Gen Z cenderung lebih mendasar, yaitu bertahan hidup. Di Filipina, hampir 80 persen warga ingin bekerja di luar negeri. Angka ini mencerminkan betapa meragukannya prospek mereka di negara asal. Remitansi mencapai sekitar 9 persen dari PDB Filipina. Fakta ini menunjukkan ambisi bergeser menjadi upaya mengirimkan uang pulang dari luar negeri.

Di Indonesia, pengangguran kaum muda menjadi masalah utama. Data pemerintah mencatat sekitar 16 persen dari penduduk usia 15 hingga 24 tahun diperkirakan menganggur. Angka ini jauh di atas rata-rata nasional. Selain itu, pekerjaan serabutan informal dan kontrak jangka pendek merupakan hal umum.

Fenomena lying flat bukan sekadar bukti kemalasan. Ini adalah respons rasional terhadap sistem yang menuntut banyak, tetapi menawarkan sedikit. Indonesia harus merespons tren ini dengan kebijakan yang menciptakan jaminan kerja dan menurunkan biaya hidup.(*)


Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending