SUASANA haru terasa di rumah Muthia, warga Kelurahan Api-Api, Bontang. Ia tak bisa menyembunyikan kebanggaannya setelah putra sulungnya, Enri Ahmed, lulus sarjana di usia 17 tahun.
Enri berhasil menuntaskan studi sarjana Program Studi Qiraat di Yaman dengan beasiswa penuh. Beasiswa ini ia dapat dari Pondok Pesantren Ma’had Tahfidz Tafaqquh Riau setelah membuktikan prestasi luar biasa, yakni hafal 30 juz Al-Qur’an sejak usia 11 tahun.
Tidak hanya lulus muda, Enri juga menguasai 10 Qiraat bacaan Al-Qur’an. Meski sudah menyandang gelar sarjana, ia tetap melanjutkan pendidikan SMA kelas XII di Riau. “Dia kuliah 2 tahun di Yaman. Bulan puasa kemarin baru pulang ke Bontang untuk ikut MTQ tingkat Provinsi,” kata Muthia, ibunya.
Prestasi Enri tidak berhenti di situ. Ia terpilih mewakili Indonesia dalam Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ) Internasional di Libya pada 20–28 September 2025. Ia akan bersaing di kategori 30 juz plus 10 Qiraat bersama satu peserta lain asal Indonesia.

Seleksi ketat telah ia jalani sejak Juni 2025. Enri sebelumnya menjuarai MTQ tingkat Kaltim kategori 30 juz plus tafsir Bahasa Arab. Biaya keikutsertaan di Libya ditanggung penuh panitia, sementara keberangkatan dari Bontang ke Jakarta dibantu oleh Wakil Wali Kota Agus Haris.
Kesempatan belajar juga masih terbuka luas bagi Enri. Ia mendapat tawaran tiga beasiswa di jurusan kedokteran dari Universitas Muhammadiyah Kepri, Universitas Muhammadiyah Riau, dan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Namun, atas saran guru, ia diminta menuntaskan dulu pendalaman ilmu agama sebelum masuk ke bidang lain.
Perjalanan Enri menjadi bukti potensi besar generasi muda Bontang. Dengan dedikasi dan dukungan keluarga, ia bukan hanya membawa nama kota, tetapi juga Indonesia di kancah dunia.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin