By admin
24.09.25

Anak Muda Amerika Tinggalkan Mobil Baru, Pilih Alternatif Murah

GEMERLAP jalanan kota Amerika Serikat kini tak lagi banyak diwarnai mobil baru milik anak muda. Generasi yang dulu identik dengan kebebasan di balik kemudi, kini perlahan melepaskan genggaman setirnya.

Sebuah studi dari S&P Global Mobility menunjukkan tren mengejutkan. Pembeli mobil baru berusia 18–34 tahun turun 12 persen pada kuartal pertama 2021, lalu turun lagi 10 persen pada periode terbaru. Sebaliknya, pembeli berusia di atas 55 tahun justru meningkat dari 45 persen menjadi 49 persen. Hampir setengah mobil baru di AS kini dikuasai konsumen berumur.

Harga menjadi batu sandungan utama. Dalam empat tahun terakhir, cicilan mobil naik hingga 30 persen. Bahkan, satu dari lima mobil baru kini memiliki cicilan lebih dari 1.000 dolar AS per bulan. Bagi anak muda yang masih terbebani pinjaman kuliah, angka ini terlalu berat.

Alternatif Mobilitas Baru

Banyak anak muda AS mulai meninggalkan konsep kepemilikan mobil pribadi. Mereka beralih ke skema alternatif yang dianggap lebih praktis. Salah satunya, berlangganan mobil lewat platform digital. Dengan cara ini, mereka cukup membayar biaya bulanan untuk memakai mobil tanpa perlu membelinya.

Foto: Rental mobil menjadi pilihan anak muda (NBC News)

Tren lain adalah car sharing atau berbagi kendaraan. Dalam sistem ini, satu mobil dipakai bergantian oleh beberapa orang di satu lingkungan atau komunitas. Selain itu, layanan ride-hailing seperti Uber dan Lyft semakin populer. Anak muda merasa lebih mudah memesan kendaraan lewat aplikasi dibanding memikirkan cicilan, asuransi, dan biaya perawatan.

Sebagian lain memilih transportasi umum. Kualitas layanan yang makin meningkat di kota-kota besar membuat opsi ini semakin diminati. Dengan pola ini, anak muda tidak lagi memandang mobil sebagai simbol kebebasan. Bagi mereka, mobil hanyalah alat mobilitas yang bisa diakses sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial.

Dampak dan Risiko Sosial

Sejumlah ahli menilai fenomena ini sebagai perubahan besar. Klein & Smart (2021) dalam jurnal The Changing Nature of Driving and Car Ownership menyebut tren ini berpotensi mengurangi kepadatan lalu lintas sekaligus membuka peluang transportasi berkelanjutan.

Foto: Mobil bekas atau second car menjadi pilihan bagi anak muda (NBC News)

Namun, Lucas & Jones (2020) dalam Economic Barriers to Car Ownership mengingatkan risiko kesenjangan mobilitas. Anak muda di wilayah pinggiran bisa kesulitan menjangkau pekerjaan dan layanan publik jika akses ke mobil pribadi berkurang.

Meski tren bergeser, pasar anak muda tetap ada. Hingga Maret, konsumen berusia 18–34 tahun masih membeli 1,1 juta unit mobil baru, mayoritas berupa mobil kompak. Produsen kini menaruh harapan pada mobil listrik yang menawarkan biaya operasional lebih rendah dan cocok dengan gaya hidup ramah lingkungan.

Kendaraan tidak lagi berdiri sebagai simbol kebebasan. Bagi anak muda, pilihan transportasi kini lebih rasional: mana yang paling sesuai dengan dompet dan gaya hidup mereka.(*)


Penulis: Dwi Lena Irawati

Trending